Menemukan Cahaya Perjuangan di Pesantren Kolong, Pelosok Flores
Hari ini, 22 Oktober 2026, semangat Hari Santri Nasional kembali menggema di berbagai penjuru Indonesia. Di kota-kota besar, peringatan ini hadir melalui upacara, kirab, doa bersama, dan beragam kegiatan yang menghidupkan kembali ingatan tentang perjuangan para santri dalam menjaga agama dan membela tanah air.
Namun, di tengah berbagai perayaan tersebut, ingatan saya justru melayang jauh ke pelosok Nusa Tenggara Timur. Ke sebuah kampung kecil bernama Kolong, di Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores.
Di sana berdiri Pondok Pesantren Alam Tahfidzul Qur'an (PATQU) Kolong, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pesantren Kolong.
Ada sesuatu yang selalu membuat saya ingin kembali ke tempat ini setiap kali berkunjung ke bumi Flores. Bukan kemegahan bangunannya, bukan pula fasilitasnya yang serba lengkap. Justru sebaliknya, pesantren ini mengajarkan arti perjuangan melalui kesederhanaan, ketulusan, dan semangat untuk terus menyalakan harapan di tengah keterbatasan.
Di tempat ini, saya belajar kembali bahwa pendidikan bukan sekadar urusan gedung, kurikulum, dan fasilitas. Pendidikan adalah tentang keberanian membuka jalan bagi masa depan, bahkan ketika jalan menuju tempat belajar itu sendiri masih penuh tantangan.
Menembus Jalan Berbatu, Menemukan Makna Perjuangan
Perjalanan menuju Pesantren Kolong bukanlah perjalanan yang selalu mudah.
Sebagian jalan menuju pesantren kini sudah mulai diperbaiki. Namun, sebagian besar masih berupa jalan tanah berbatu yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi lumpur menyerupai tanah liat ketika hujan turun. Jalan yang semula masih bisa dilalui dapat berubah licin dan menyulitkan kendaraan untuk bergerak.
Saya pernah merasakan sendiri bagaimana beratnya perjalanan itu. Mengendarai motor trail, saya justru sempat terjebak di tengah jalan. Roda motor tidak lagi sanggup berputar karena kondisi tanah yang begitu sulit dilalui. Saya tidak bisa melanjutkan perjalanan tanpa bantuan.
Beruntung, warga setempat datang menolong.
Pengalaman sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Bagi orang yang datang sesekali, jalan tersebut mungkin hanya menjadi bagian dari cerita perjalanan yang menantang. Namun, bagi masyarakat dan para santri yang tinggal di sana, jalan itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bayangkan jika jalan seperti ini harus dilalui untuk mengakses sekolah, mendapatkan layanan kesehatan, mengangkut hasil pertanian, atau memenuhi kebutuhan pokok.
Di balik jalan yang belum sepenuhnya layak, ada masyarakat yang setiap hari berjuang untuk menjalani kehidupan. Ada anak-anak yang berusaha meraih pendidikan. Ada pengasuh pesantren yang terus mendampingi santri. Ada pula warga yang dengan tulus membantu siapa saja yang mengalami kesulitan di perjalanan.
Dari pengalaman itu, saya memahami bahwa pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka dan laporan. Pembangunan harus dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Jalan yang layak bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah penghubung harapan, pembuka akses pendidikan, dan jalan menuju kesempatan hidup yang lebih baik.
Karena itu, ketika kita memperingati Hari Santri, sudah semestinya kita juga mengingat lingkungan tempat para santri tumbuh. Mereka membutuhkan guru yang mendampingi, pesantren yang mendidik, masyarakat yang mendukung, dan infrastruktur yang memungkinkan mereka belajar dengan lebih baik.
Dari Kampung yang Sunyi, Tumbuh Pesantren yang Menghidupkan Harapan
Dahulu, Kampung Kolong dikenal sebagai wilayah yang sunyi dan belum terjangkau jaringan listrik negara. Ketika malam tiba, suasana kampung diselimuti kegelapan. Kehidupan berjalan sederhana, dan keberadaan kampung ini belum banyak diketahui orang dari luar.
Perlahan, keadaan mulai berubah setelah Pesantren Kolong hadir dan menjalankan aktivitas pendidikan serta pembinaan keagamaan.
Awalnya, pesantren ini memiliki tujuan yang sederhana tetapi sangat penting: membina anak-anak dari kampung-kampung terpencil di sekitar Desa Siru agar mereka mendapatkan pendidikan agama, belajar menghafal Al-Qur'an, dan tumbuh dengan akhlak yang baik.
Namun, perjalanan waktu membawa perkembangan yang tidak selalu dapat diperkirakan sebelumnya.
Pesantren yang pada mulanya berfokus melayani anak-anak di sekitar Desa Siru itu kini justru menjadi pilihan masyarakat dari berbagai wilayah di Pulau Flores. Anak-anak datang untuk menuntut ilmu, belajar menghafal Al-Qur'an, membangun kedisiplinan, dan menata masa depan mereka.
Kehadiran para santri, pengajar, pengunjung, dan pihak-pihak yang datang untuk membantu membuat Kampung Kolong semakin dikenal.
Seorang tokoh masyarakat setempat pernah mengungkapkan rasa syukur atas perubahan yang mereka rasakan.
Dahulu, kampung ini begitu sepi, gelap tanpa listrik negara, dan tidak banyak dikenal orang dari luar. Setelah pesantren berdiri, semakin banyak orang datang berkunjung. Masyarakat pun merasa bangga karena keberadaan pesantren turut membawa perhatian terhadap kebutuhan kampung, termasuk perbaikan akses jalan.
Bagi masyarakat setempat, perubahan ini bukan sekadar bertambahnya jumlah orang yang berkunjung. Ada harapan bahwa kampung mereka akan semakin diperhatikan, akses terhadap pelayanan publik semakin terbuka, dan anak-anak memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan diri.
Di sinilah kita melihat bahwa pesantren dapat memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar lembaga pendidikan keagamaan.
Pesantren dapat menjadi titik awal perubahan sosial. Dari sebuah tempat sederhana untuk belajar Al-Qur'an, tumbuh ruang perjumpaan yang mempertemukan masyarakat, relawan, lembaga sosial, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap masa depan sebuah kampung.
Ustaz Fadly dan Istrinya: Merawat Pendidikan dengan Ketulusan
Pesantren Kolong dipimpin oleh Ustaz Fadly bersama istrinya. Di tengah keterbatasan lingkungan dan fasilitas, keduanya terus menjalankan ikhtiar pendidikan bagi anak-anak yang mempercayakan masa depan mereka kepada pesantren.
Salah satu hal yang membuat saya terkesan adalah komitmen pesantren untuk tidak memungut biaya dari para santrinya.
Pendidikan di pesantren ini diupayakan agar tetap dapat diakses oleh anak-anak yang mungkin tidak memiliki kemampuan ekonomi memadai. Sebagai pengganti biaya yang tidak mereka bayarkan, para santri dan keluarga memberikan hasil bumi ala kadarnya untuk membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Model kehidupan seperti ini menunjukkan hubungan yang erat antara pesantren dan masyarakat agraris di sekitarnya.
Hasil bumi bukan sekadar komoditas ekonomi. Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, hasil bumi juga dapat menjadi wujud kepedulian, gotong royong, dan dukungan terhadap pendidikan anak-anak mereka.
Tentu saja, pola tersebut tidak berarti bahwa penyelenggaraan pesantren tidak membutuhkan biaya. Kebutuhan makan, pendidikan, pemeliharaan bangunan, sanitasi, energi, serta berbagai keperluan santri tetap memerlukan dukungan yang berkelanjutan.
Justru di sinilah tantangan besarnya.
Bagaimana memastikan anak-anak dari keluarga sederhana tetap dapat belajar tanpa terbebani biaya? Bagaimana pengasuh pesantren dapat terus mendidik ketika sumber daya terbatas? Dan bagaimana masyarakat yang ingin membantu dapat mengambil bagian secara nyata?
Pertanyaan-pertanyaan itu semestinya tidak hanya menjadi beban Ustaz Fadly dan istrinya. Pendidikan anak-anak pedalaman merupakan tanggung jawab bersama.
Kita mungkin tidak selalu bisa hadir setiap hari di Kampung Kolong. Namun, kita dapat ikut memastikan bahwa perjuangan pendidikan di sana tidak berjalan sendirian.
Sebab, di balik seorang santri yang berhasil menyelesaikan pendidikan, ada proses panjang yang melibatkan pengasuh, keluarga, masyarakat, dan orang-orang yang bersedia berbagi.
Ketika Malam Tiba, Cahaya Matahari Menjadi Harapan
Ada satu kenyataan lain yang membuat kehidupan di Pesantren Kolong terasa begitu berbeda.
Hingga kini, jaringan listrik negara belum menjangkau kawasan pesantren ini. Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terbatas, pesantren memanfaatkan panel surya dan generator diesel.
Listrik menjadi kebutuhan penting bagi aktivitas pendidikan. Penerangan diperlukan untuk belajar pada malam hari, membaca Al-Qur'an, menghafal ayat-ayat suci, dan menjalankan kegiatan sehari-hari.
Namun, menghadirkan listrik di wilayah seperti ini bukan perkara sederhana. Dibutuhkan peralatan, biaya pemasangan, pemeliharaan, dan kemampuan untuk memastikan sumber energi dapat digunakan secara berkelanjutan.
Dalam kondisi seperti itu, dukungan dari berbagai pihak menjadi sangat berarti.
Senyum Anak Negeri, organisasi sosial yang bergerak dalam kegiatan kemanusiaan dan pendidikan, menjadi salah satu pihak yang berkesempatan membantu memenuhi kebutuhan Pesantren Kolong, terutama melalui dukungan sarana listrik dan fasilitas toilet.
Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan berbagai proyek pembangunan berskala besar. Akan tetapi, bagi pesantren yang hidup dalam keterbatasan, kehadiran fasilitas dasar dapat memberikan perubahan nyata.
Listrik membantu kegiatan belajar berlangsung dengan lebih baik. Toilet mendukung kebersihan dan kesehatan lingkungan pesantren. Keduanya berkaitan langsung dengan martabat manusia dan kelayakan ruang pendidikan.
Pengalaman ini mengingatkan kita bahwa membantu pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan bermula dari memastikan anak-anak memiliki penerangan yang memadai untuk belajar atau fasilitas sanitasi yang layak untuk digunakan.
Tentu, dukungan tersebut bukan berarti seluruh kebutuhan pesantren telah terpenuhi. Masih ada berbagai kebutuhan lain yang memerlukan perhatian, termasuk akses jalan, fasilitas belajar, sarana sanitasi, dan ketersediaan energi yang lebih andal.
Namun, setiap ikhtiar yang dilakukan dengan tepat dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas.
Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua persoalan sekaligus. Akan tetapi, kita dapat memilih untuk tidak membiarkan persoalan itu berlalu tanpa kepedulian.
Jangan Terkejut, Malam Hari Pesantren Bisa Menjadi Tempat Berlindung Kambing dan Sapi
Ada pemandangan lain yang mungkin terasa tidak biasa bagi orang yang terbiasa hidup di lingkungan perkotaan.
Ketika malam tiba, bangunan Pesantren Kolong terkadang ikut menjadi tempat berlindung kambing, bahkan sapi milik warga.
Hewan-hewan peliharaan tersebut memang tidak seluruhnya dikandangkan. Ketika malam datang, mereka mencari tempat untuk berlindung, termasuk di sekitar rumah warga dan bangunan pesantren.
Bagi orang yang baru pertama kali berkunjung, pemandangan ini mungkin mengejutkan. Bangunan yang pada siang hari digunakan untuk kegiatan pendidikan, pada malam hari dapat menjadi tempat berteduh bagi hewan ternak.
Namun, jika kita melihatnya lebih dekat, keadaan itu memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat yang masih sangat dekat dengan aktivitas pertanian dan peternakan.
Di kampung seperti Kolong, kehidupan manusia, tanah, tanaman, dan hewan ternak saling terhubung. Ruang kehidupan belum selalu terpisah secara tegas seperti di perkotaan.
Kondisi ini tentu tidak berarti bahwa persoalan kebersihan dan kelayakan lingkungan boleh diabaikan. Justru, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya dukungan untuk menyediakan kandang yang layak, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, serta fasilitas pesantren yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan.
Santri berhak belajar dalam lingkungan yang bersih dan sehat. Masyarakat pun berhak mengembangkan kegiatan pertanian dan peternakan secara lebih baik.
Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Dengan perencanaan dan dukungan yang tepat, pesantren dan kehidupan agraris dapat tumbuh berdampingan. Bahkan, kedekatan dengan alam dan dunia pertanian dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi santri tentang kemandirian, tanggung jawab, kerja keras, dan penghormatan terhadap kehidupan.
Pesantren Kolong mengajarkan bahwa membangun pendidikan di pedalaman bukan hanya soal menghadirkan ruang kelas. Kita juga perlu memahami kehidupan masyarakat, menghormati kearifan lokal, dan bersama-sama mencari solusi atas persoalan yang nyata.
Pesantren sebagai Rumah Persaudaraan dan Penggerak Perubahan
Salah satu hal yang patut diapresiasi dari Pesantren Kolong adalah perannya sebagai ruang perjumpaan masyarakat.
Pesantren tidak hanya menjadi tempat bagi para santri untuk menghafal Al-Qur'an dan mendalami agama. Kehadirannya juga membuka ruang bagi kegiatan sosial, keagamaan, dan kebersamaan masyarakat dari berbagai kampung di Desa Siru.
Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, ruang perjumpaan semacam ini memiliki arti penting.
Masyarakat dapat saling mengenal, membangun kepercayaan, dan mengembangkan kerja sama. Pesantren dapat menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan yang tidak berhenti pada pemahaman keagamaan, tetapi diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Di sinilah pendidikan karakter memperoleh maknanya yang sesungguhnya.
Santri tidak cukup hanya mampu menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Mereka juga perlu belajar menghormati orang lain, membantu sesama, menjaga lingkungan, bekerja keras, dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.
Nilai-nilai tersebut semakin penting ketika kita berbicara tentang masa depan anak-anak pedalaman.
Mereka perlu memiliki fondasi keagamaan yang kuat, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk menghadapi perubahan zaman. Mereka perlu mencintai tradisi dan lingkungan tempat mereka tumbuh, sekaligus memiliki keberanian untuk mengembangkan potensi diri.
Pendidikan yang baik tidak memaksa anak-anak meninggalkan akar kehidupannya. Sebaliknya, pendidikan membantu mereka memahami potensi yang dimiliki dan menggunakannya untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Pesantren yang tumbuh di tengah masyarakat agraris memiliki peluang besar untuk mengembangkan pendidikan yang dekat dengan kehidupan nyata. Nilai-nilai Al-Qur'an dapat berjalan berdampingan dengan pembelajaran tentang pertanian, peternakan, kewirausahaan, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, santri tidak hanya disiapkan menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga menjadi manusia yang mandiri, produktif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Memaknai Resolusi Jihad di Zaman Sekarang
Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober mengingatkan kita pada Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memperlihatkan peran ulama serta santri dalam membela tanah air.
Semangat sejarah itu perlu terus dihidupkan, bukan hanya melalui upacara dan slogan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menjawab tantangan zaman.
Jika dahulu perjuangan santri hadir dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, hari ini semangat perjuangan itu dapat diwujudkan melalui ikhtiar membangun manusia dan memajukan kehidupan masyarakat.
Di Kampung Kolong, perjuangan itu terlihat dalam usaha menjaga agar anak-anak tetap mendapatkan pendidikan meskipun fasilitas terbatas.
Perjuangan itu terlihat pada Ustaz Fadly dan istrinya yang terus mendampingi santri. Terlihat pula pada warga yang saling membantu, pada pihak-pihak yang menyediakan dukungan listrik dan toilet, serta pada setiap orang yang bersedia menempuh perjalanan sulit demi menghadirkan manfaat.
Perjuangan juga berarti membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang selama ini tinggal jauh dari pusat pelayanan. Perjuangan berarti membantu mereka memperoleh lingkungan belajar yang layak. Perjuangan berarti memperkuat kemampuan masyarakat agar tidak terus-menerus hidup dalam keterbatasan.
Dengan pemahaman seperti ini, semangat Hari Santri menjadi sangat relevan dengan agenda pembangunan Indonesia.
Kita membutuhkan santri yang kuat dalam iman, luas dalam pengetahuan, luhur dalam akhlak, dan tangguh menghadapi perubahan. Kita juga membutuhkan pesantren yang berdaya, masyarakat yang saling mendukung, serta kebijakan pembangunan yang memperhatikan kebutuhan wilayah pedalaman.
Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemajuan kota-kota besar. Masa depan itu juga ditentukan oleh kesempatan yang tersedia bagi anak-anak di kampung-kampung terpencil, termasuk mereka yang setiap malam belajar di bawah penerangan panel surya di Kampung Kolong.
Dari Kolong, Kita Belajar tentang Arti Kepedulian
Setiap kali mengingat Pesantren Kolong, saya kembali diingatkan bahwa ukuran sebuah perjuangan tidak selalu ditentukan oleh besarnya fasilitas yang dimiliki.
Ada perjuangan yang berlangsung di tempat sederhana, jauh dari pusat perhatian, tanpa sorotan kamera dan tanpa panggung megah.
Perjuangan seperti itulah yang saya temukan di Kampung Kolong.
Di sana, seorang pengasuh pesantren berusaha menjaga pendidikan tetap berjalan. Anak-anak belajar menghafal Al-Qur'an dan membangun masa depan. Masyarakat berbagi hasil bumi untuk mendukung kehidupan santri. Panel surya dan generator diesel membantu menghadirkan penerangan. Relawan datang membawa bantuan, sementara warga setempat tetap menjalani kehidupan dengan segala keterbatasannya.
Di sana pula, jalan berbatu mengajarkan tentang sulitnya akses, bantuan warga mengajarkan arti persaudaraan, dan kehidupan yang sederhana mengingatkan kita untuk tidak mudah mengukur kebahagiaan dengan kemewahan.
Pengalaman terjebak dengan motor trail di jalan menuju pesantren mungkin hanya berlangsung sesaat. Namun, peristiwa itu membuat saya membayangkan betapa panjang perjuangan yang harus dilalui masyarakat setiap hari.
Karena itu, kepedulian kepada pesantren tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat. Kita perlu memikirkan bagaimana pendidikan dapat berlangsung secara berkelanjutan, bagaimana pengasuh mendapatkan dukungan yang memadai, bagaimana santri belajar dalam lingkungan yang sehat, dan bagaimana masyarakat memperoleh akses terhadap infrastruktur dasar.
Kita juga perlu memastikan bahwa bantuan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan, menghormati martabat penerima, serta memperkuat kemampuan masyarakat untuk berkembang secara mandiri.
Senyum Anak Negeri dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak-anak pedalaman dapat terus mengambil bagian dalam ikhtiar ini. Namun, pekerjaan besar semacam ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak: masyarakat, lembaga sosial, dunia pendidikan, dunia usaha, dan pemerintah sesuai peran masing-masing.
Anak-anak di pedalaman tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan.
Menyalakan Cahaya, Menjaga Harapan
Hari Santri Nasional 2026 seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk melihat lebih dekat kehidupan para santri di seluruh penjuru negeri.
Jangan sampai peringatan Hari Santri hanya meriah di tempat-tempat yang mudah dijangkau, sementara perjuangan para santri di pelosok justru luput dari perhatian.
Pesantren Kolong mengingatkan kita bahwa semangat keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan dapat tumbuh di tengah keterbatasan. Bahwa sebuah kampung yang dahulu sunyi dapat perlahan dikenal karena pendidikan. Bahwa anak-anak dari wilayah terpencil dapat memiliki cita-cita besar ketika ada orang-orang yang bersedia membuka jalan bagi mereka.
Kita mungkin belum mampu menghadirkan semua fasilitas yang dibutuhkan pesantren itu. Jalan menuju Kolong mungkin belum seluruhnya layak. Listrik negara mungkin belum menjangkau kawasan tersebut. Fasilitas pendidikan dan sanitasi mungkin masih perlu terus diperbaiki.
Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk menyerah. Justru, keadaan tersebut menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan bersama yang harus dituntaskan.
Dari Pesantren Kolong, di Kampung Kolong, Desa Siru, Manggarai Barat, saya belajar bahwa cahaya tidak selalu datang dari tempat yang terang. Terkadang, cahaya justru lahir dari tempat yang paling membutuhkan penerangan.
Selama masih ada orang yang bersedia mendidik, anak-anak yang tekun belajar, masyarakat yang saling membantu, dan tangan-tangan yang mau berbagi, harapan akan terus tumbuh.
22 Oktober 2026
Mari menjaga semangat perjuangan para santri dengan memperluas akses pendidikan, merawat persaudaraan, membangun kemandirian, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat hingga ke pelosok negeri.
Sebab, kemuliaan sebuah bangsa tidak hanya terlihat dari gemerlap kota-kotanya, tetapi juga dari kesungguhannya menjaga harapan anak-anak yang tumbuh jauh dari pusat kemajuan.
Dari Pesantren Kolong, kita belajar: selama ilmu terus diajarkan, Al-Qur'an terus dilantunkan, dan kepedulian terus diwujudkan dalam kerja nyata, cahaya harapan Indonesia tidak akan pernah padam.
