Mengapa Sekolah Tani Masyarakat Harus Ada?
24 September 2026. Hari Tani Nasional, sekaligus hari yang istimewa bagi Sekolah Tani Masyarakat (STM). Tepat pada hari ini, STM memasuki usia yang ke-6.
Enam tahun lalu, sebuah pertanyaan sederhana menjadi awal dari sebuah perjalanan:
Mengapa masyarakat desa harus mendapatkan lebih dari sekadar pelatihan?
Pelatihan tentu penting. Pengetahuan dan keterampilan adalah bekal untuk bertumbuh. Tetapi dalam kehidupan nyata, sebuah pelatihan sering kali belum cukup.
Setelah pelatihan selesai, masih ada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana keterampilan itu diterapkan? Bagaimana menjadi karya? Bagaimana menghasilkan pendapatan? Bagaimana membangun usaha? Dan bagaimana agar manfaatnya tidak berhenti pada satu orang?
Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah gagasan Sekolah Tani Masyarakat tumbuh.
Bukan Sekadar Sekolah
Nama Sekolah Tani Masyarakat sebenarnya membawa gagasan yang cukup luas.
Sekolah bukan hanya bangunan. Sekolah adalah tempat belajar. Tani bukan sekadar profesi, tetapi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Sedangkan masyarakat adalah ruang tempat pengetahuan, keterampilan, usaha, dan kehidupan sosial saling bertemu.
Karena itu, STM sejak awal diarahkan bukan sekadar menjadi tempat pelatihan pertanian, melainkan menjadi ruang untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan memberdayakan masyarakat.
Di sinilah pendidikan menjadi penting. Tetapi pendidikan saja belum cukup. Keterampilan juga penting. Namun keterampilan pun membutuhkan ruang untuk dipraktikkan.
Pada akhirnya, semua perlu bertemu dengan kesempatan untuk berkarya dan berusaha.
Dari Pendidikan hingga Pemberdayaan
Perjalanan STM kemudian berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Di dalam ekosistemnya tumbuh berbagai bentuk kegiatan dan kelembagaan: PKBM, LKP, LPK, P4S, dan Wakaf Lestari.
PKBM membuka jalan bagi masyarakat untuk terus mendapatkan pendidikan. LKP memberikan ruang untuk mengembangkan keterampilan. LPK menjadi bagian dari upaya menyiapkan kompetensi untuk dunia kerja. Sementara P4S menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan dunia pertanian dan kehidupan nyata di lapangan.
Wakaf Lestari membawa gagasan yang berbeda tetapi tetap memiliki keterhubungan: bagaimana aset dan sumber daya dapat dikelola agar manfaatnya berlangsung lebih panjang.
Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu gagasan: pendidikan dan pelatihan harus membuka jalan menuju kemandirian.
Ketika Keterampilan Bertemu Kesempatan
Seseorang bisa memiliki keterampilan, tetapi belum tentu memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha.
Karena itulah ekosistem STM kemudian terhubung dengan Koperasi Andalan Berkah Bumi.
Koperasi menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan potensi anggota, kegiatan ekonomi, produk, dan kebutuhan pasar.
Dari perjalanan yang sama kemudian lahir pula PT TANI (Tunas Andalan Nusantara Insani). Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menghubungkan potensi pertanian, kewirausahaan, dan dunia usaha.
Dengan demikian, perjalanan yang dibayangkan menjadi lebih utuh:
Belajar → Terampil → Berkarya → Berusaha → Berdampak
Bukan berarti setiap orang harus menjadi pengusaha. Bukan pula berarti semua orang harus menjadi petani. Tetapi setiap orang seharusnya memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan menemukan jalan terbaik untuk memberikan manfaat.
Kenapa Pertanian?
Pertanian memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Di dalamnya ada pangan, pekerjaan, keluarga, lingkungan, ekonomi desa, bahkan masa depan generasi berikutnya.
Pertanian juga menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Tanah, air, pengetahuan lokal, komoditas, teknologi, kreativitas anak muda, dan kekuatan gotong royong dapat bertemu menjadi kekuatan baru.
Karena itu, membangun pertanian tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara menanam atau meningkatkan produksi. Pertanian juga membutuhkan manusia yang terus belajar, kelembagaan yang kuat, akses ekonomi, jejaring, inovasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Di titik inilah STM mencoba mengambil bagian.
Enam Tahun Bukan Akhir Perjalanan
Enam tahun tentu belum panjang. Masih banyak yang harus diperbaiki. Masih banyak gagasan yang belum terwujud. Dan masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan manfaat.
Namun enam tahun perjalanan memberikan satu pelajaran penting: sebuah gagasan tidak akan tumbuh hanya karena gagasan itu baik. Ia membutuhkan orang-orang yang mau mengerjakan, merawat, memperbaiki, dan mengembangkannya.
Di balik kegiatan STM ada banyak tangan yang bekerja. Ada pengelola, pendamping, instruktur, petani, peserta didik, relawan, mitra, lembaga pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Ada pekerjaan-pekerjaan yang terlihat, tetapi ada pula pekerjaan kecil yang mungkin tidak pernah diketahui banyak orang.
Semua memiliki tempat dalam perjalanan enam tahun STM.
Karena pada akhirnya, sebuah sekolah bukan hanya tentang siapa yang mendirikan, tetapi tentang siapa saja yang bersedia ikut membuatnya tetap hidup dan memberikan manfaat.
Menjaga Gagasan Tetap Hidup
Hari Tani Nasional dan Milad ke-6 STM menjadi momentum untuk kembali mengingat alasan mengapa perjalanan ini dimulai.
Bukan sekadar untuk membuat sebuah lembaga. Bukan sekadar untuk menyelenggarakan pelatihan. Dan bukan sekadar untuk membangun berbagai unit kegiatan.
Yang lebih penting adalah menghadirkan sebuah ekosistem yang membuat masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk: belajar, berkarya, berusaha, dan memberikan manfaat.
Jika pendidikan membuka pintu, keterampilan memberikan bekal, pertanian menyediakan ruang untuk berkarya, koperasi memperkuat kebersamaan ekonomi, dan dunia usaha membuka kesempatan untuk berkembang, maka semuanya dapat menjadi bagian dari satu perjalanan yang sama: membangun masyarakat yang lebih berdaya.
Sebuah gagasan mungkin dimulai dari satu orang, tetapi kebermanfaatannya hanya akan tumbuh ketika banyak orang bersedia berjalan bersama.
Selamat Milad ke-6 Sekolah Tani Masyarakat.
Selamat Hari Tani Nasional.
Semoga enam tahun yang telah dilalui menjadi pijakan untuk perjalanan yang jauh lebih panjang: menghadirkan pendidikan, keterampilan, pertanian, usaha, dan pemberdayaan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Muhamad Anantiyo Widodo
Founder & Ketua Dewan Pembina
Sekolah Tani Masyarakat
