Ketika Kebaikan Dilihat: Mengapa Apresiasi Penting dalam Manajemen SDM
Suatu pagi, beberapa lembar sertifikat apresiasi disodorkan kepada saya.
Mohon ditandatangani, kata seseorang.
Saya kemudian membaca satu per satu sertifikat tersebut. Sertifikat itu diberikan kepada beberapa pegawai yang berhasil meningkatkan performa capaian budaya keislaman di lingkungan lembaga.
Saya pun terdiam sejenak.
Bukan karena sertifikat itu sesuatu yang luar biasa. Secara fisik, ia hanyalah selembar kertas yang nantinya mungkin akan disimpan di dalam map atau ditempatkan di meja kerja.
Tetapi saya justru berpikir tentang sesuatu yang lebih besar:
Pertanyaan sederhana ini ternyata sangat dekat dengan salah satu persoalan penting dalam manajemen sumber daya manusia: bagaimana organisasi membangun budaya yang membuat orang ingin terus memberikan yang terbaik.
Manusia Ingin Kontribusinya Bermakna
Setiap pegawai tentu memiliki tanggung jawab dan target pekerjaan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, indikator yang harus dicapai, dan standar yang harus dipenuhi.
Namun manusia bukan sekadar angka dalam laporan kinerja.
Di balik setiap capaian terdapat usaha, waktu, energi, pembelajaran, bahkan terkadang pengorbanan yang tidak selalu terlihat dalam laporan.
Karena itu, ketika seseorang menunjukkan perubahan positif, memberikan kontribusi lebih, atau berhasil menjaga nilai-nilai yang ingin dibangun organisasi, ada baiknya organisasi berhenti sejenak dan menyampaikan penghargaan atas kontribusi tersebut.
Kalimat sederhana seperti itu mungkin terlihat kecil. Namun bagi seseorang yang telah berusaha, pengakuan tersebut dapat memberikan makna yang besar.
Apresiasi Bukan Sekadar Memberikan Penghargaan
Dalam praktik manajemen SDM, apresiasi sering kali dipahami dalam bentuk penghargaan formal seperti sertifikat, piala, ucapan selamat, atau pengumuman pegawai berprestasi.
Semua itu baik.
Tetapi hakikat apresiasi sebenarnya jauh lebih luas.
Apresiasi adalah cara organisasi mengakui bahwa sebuah kontribusi memiliki nilai.
Karena itu, apresiasi yang baik bukan hanya menjawab pertanyaan siapa yang mendapatkan penghargaan, tetapi juga menjawab beberapa hal berikut:
- Perilaku baik apa yang ingin kita tumbuhkan?
- Kontribusi apa yang ingin kita pertahankan?
- Nilai organisasi apa yang ingin kita kuatkan?
- Dampak apa yang telah diberikan oleh pegawai tersebut?
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar, apresiasi tidak lagi menjadi kegiatan seremonial.
Ia berubah menjadi instrumen untuk membangun budaya organisasi.
Apresiasi yang Baik Harus Terhubung dengan Budaya
Misalnya sebuah lembaga ingin membangun budaya disiplin. Maka apresiasi dapat diberikan kepada mereka yang menunjukkan konsistensi dalam kedisiplinan.
Jika organisasi ingin membangun budaya pelayanan, apresiasi dapat diberikan kepada pegawai yang memberikan pelayanan dengan penuh perhatian.
Jika organisasi ingin membangun budaya kolaborasi, apresiasi dapat diberikan kepada mereka yang mampu bekerja bersama, membantu rekan, dan tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi.
Dan jika sebuah lembaga pendidikan Islam ingin menguatkan budaya keislaman, maka apresiasi dapat diarahkan kepada perilaku nyata yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan kerja sehari-hari.
Dengan demikian, pesan yang muncul bukan sekadar tentang siapa yang mendapatkan penghargaan.
Lima Bentuk Apresiasi yang Sederhana tetapi Bermakna
1. Mengucapkan Terima Kasih Secara Tulus
Pimpinan tidak harus selalu menunggu acara resmi untuk memberikan apresiasi.
Kadang sebuah ucapan sederhana setelah rapat, setelah kegiatan, atau bahkan melalui pesan pribadi sudah cukup untuk membuat seseorang merasa diperhatikan.
Yang penting bukan panjangnya kalimat, tetapi ketulusan dan kekhususan pesannya.
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pimpinan benar-benar memperhatikan kontribusi seseorang.
2. Memberikan Pengakuan Secara Terbuka
Ada kalanya seseorang perlu diapresiasi di hadapan rekan-rekannya.
Dalam rapat, forum evaluasi, apel, atau kegiatan bersama, pimpinan dapat menyebutkan kontribusi positif seseorang.
Namun ada satu hal yang perlu dijaga: apresiasi tidak boleh berubah menjadi ajang mempermalukan mereka yang belum mendapatkan penghargaan.
Tujuannya bukan menciptakan jarak antara yang mendapatkan penghargaan dan yang belum, tetapi menunjukkan contoh perilaku yang layak ditumbuhkan bersama.
3. Memberikan Sertifikat atau Surat Apresiasi
Sertifikat tetap memiliki tempat penting.
Bukan karena nilai kertasnya, tetapi karena ia menjadi rekam jejak bahwa organisasi pernah memberikan pengakuan atas sebuah kontribusi.
Seseorang dapat menyimpan sertifikat tersebut. Suatu saat ia mungkin membacanya kembali dan mengingat sebuah fase ketika usahanya mendapatkan perhatian dari organisasi.
Karena itu, isi sertifikat sebaiknya tidak terlalu generik. Tuliskan dengan jelas apa yang diapresiasi dan kontribusi apa yang telah diberikan.
4. Memberikan Kepercayaan dan Ruang Bertumbuh
Apresiasi tidak selalu harus berupa benda.
Memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin program, mengikuti pelatihan, menyampaikan gagasan, atau terlibat dalam pekerjaan strategis juga merupakan bentuk apresiasi.
Bagi organisasi yang ingin membangun budaya bertumbuh, bentuk apresiasi seperti ini sangat relevan.
5. Menjelaskan Dampak dari Sebuah Kontribusi
Menurut saya, inilah salah satu bentuk apresiasi yang sering dilupakan.
Orang akan lebih mudah memahami arti pekerjaannya ketika ia mengetahui dampak dari apa yang telah dilakukannya.
Misalnya seorang pegawai berhasil meningkatkan capaian budaya keislaman.
Jangan berhenti pada ucapan selamat atas pencapaian.
Dengan begitu, pegawai memahami bahwa pekerjaannya bukan hanya menghasilkan angka, tetapi memberikan dampak.
Apresiasi Tidak Harus Mahal
Salah satu hal menarik dari apresiasi adalah bahwa nilainya tidak selalu ditentukan oleh besarnya biaya.
Ucapan terima kasih tidak membutuhkan anggaran besar.
Surat apresiasi tidak membutuhkan acara yang mewah.
Menyebut nama seseorang dalam forum juga tidak membutuhkan biaya.
Memberikan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh bahkan dapat menjadi investasi yang manfaatnya kembali kepada organisasi.
Yang dibutuhkan adalah kepekaan seorang pemimpin untuk melihat kontribusi.
Sebab terkadang masalah dalam organisasi bukan karena tidak ada orang baik yang bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi karena kebaikan itu terlalu lama dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Jangan Sampai Orang Baik Merasa Tidak Terlihat
Ada pegawai yang setiap hari datang tepat waktu.
Ada yang selalu menyelesaikan tugas sebelum batas waktu.
Ada yang dengan sabar melayani peserta didik dan orang tua.
Ada yang membantu rekan kerjanya tanpa banyak bicara.
Ada yang konsisten menjaga nilai-nilai organisasi meskipun tidak pernah mendapatkan sorotan.
Kebaikan-kebaikan seperti ini mudah sekali menjadi tidak terlihat karena dilakukan berulang kali.
Padahal justru konsistensi itulah yang sering menjadi fondasi budaya organisasi.
Maka pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal baik yang sering dianggap biasa.
Dalam Islam, Kebaikan Tidak Sia-Sia
Bagi lembaga pendidikan Islam, budaya apresiasi juga dapat ditempatkan dalam kerangka nilai yang lebih luas.
Allah SWT berfirman:
QS. At-Taubah: 120
Ayat tersebut memberikan pengingat bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di hadapan Allah.
Dalam konteks organisasi, kita tentu tidak sedang menggantikan penghargaan dari Allah dengan penghargaan manusia.
Sebaliknya, apresiasi dapat menjadi salah satu cara manusia untuk mengakui, menjaga, dan menumbuhkan kebaikan yang telah dilakukan oleh orang lain.
Ketika seseorang berbuat baik, lalu organisasi melihatnya, menghargainya, dan menjadikannya inspirasi bagi yang lain, maka kebaikan tersebut memiliki peluang untuk berkembang menjadi budaya.
Dari Apresiasi Menjadi Budaya
Kembali pada sertifikat yang saya tandatangani pagi itu.
Saya kemudian berpikir bahwa mungkin yang paling penting bukanlah sertifikatnya.
Yang paling penting adalah pesan di baliknya.
Bahwa organisasi sedang memberikan penghargaan atas kontribusi para pegawainya dan menunjukkan bahwa perilaku baik memiliki tempat dalam budaya organisasi.
Jika pesan seperti ini terus dibangun secara konsisten, apresiasi tidak lagi menjadi kegiatan sesaat.
Ia menjadi bagian dari budaya organisasi.
Budaya yang membuat orang merasa bahwa kontribusinya memiliki arti dan pekerjaannya memberikan dampak bagi lingkungan di sekitarnya.
Pada akhirnya, manajemen SDM bukan hanya tentang bagaimana organisasi menilai manusia yang bekerja di dalamnya.
Manajemen SDM juga tentang bagaimana organisasi memanusiakan manusia yang bekerja di dalamnya.
Dan salah satu bentuk paling sederhana dari memanusiakan manusia adalah:
Mungkin hanya sebuah sertifikat.
Mungkin hanya sebuah ucapan.
Mungkin hanya sebuah kesempatan.
Tetapi ketika diberikan dengan tulus dan pada waktu yang tepat, sesuatu yang sederhana itu dapat meninggalkan pesan yang panjang:
