GfG5GUG6TUG7TpGlGUGoBSG9

Datang sebagai Asesor, Pulang Membawa Pelajaran : Menjaga Amanah Kompetensi Wakaf di UNISSULA

Ada pekerjaan yang selesai ketika tugasnya selesai. Ada pula pekerjaan yang justru meninggalkan banyak bahan untuk direnungkan setelah semuanya berakhir.

Menjadi asesor uji kompetensi wakaf di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang pada 20 September 2026 termasuk yang kedua.

Kehadiran di UNISSULA kali ini bukan sebagai dosen, bukan pula sebagai mahasiswa, melainkan sebagai asesor uji kompetensi bidang wakaf pada LSP Badan Wakaf Indonesia.

Sebuah peran yang mungkin terlihat sederhana dari luar: menguji kompetensi peserta. Tetapi ternyata, di balik sebuah proses asesmen ada tanggung jawab yang tidak sederhana.

Asesor Bukan Sekadar Bertanya

Sebelum asesmen dimulai, ada proses yang harus dipersiapkan. Jadwal, perangkat asesmen, metode, hingga bukti-bukti kompetensi yang perlu digali harus dipastikan terlebih dahulu.

Kemudian proses berjalan.

Ada dokumen yang diperiksa. Ada pengalaman yang digali. Ada pertanyaan yang diajukan. Ada jawaban yang perlu didengarkan dengan saksama. Ada praktik dan bukti kompetensi yang harus dicermati.

Sesekali pertanyaan sederhana justru membawa diskusi menjadi panjang.

Maklum, yang dihadapi bukan sekadar peserta yang datang untuk menjawab soal. Para asesi kali ini adalah para profesional yang sudah lama berkecimpung di bidangnya.

“Asesor tidak sedang mencari kesalahan peserta. Asesor sedang mencari bukti kompetensi.”

Menjaga Amanah Kompetensi Wakaf di UNISSULA  •  20 September 2026

Standarnya sudah ditentukan. Tugas asesor adalah memastikan bukti yang ditunjukkan memang sesuai dengan standar tersebut.

Karena itu, keputusan tidak boleh lahir dari kesan pribadi.

Harus ada bukti.
Harus ada standar.
Dan harus ada objektivitas.

Bertemu Para Profesional di Dunia Wakaf

Para asesi dalam kegiatan ini berasal dari kalangan dosen dan pengelola lembaga di bawah Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA).

Mereka adalah orang-orang yang sehari-hari tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga menjalankan berbagai aktivitas kelembagaan yang berkembang dari pengelolaan wakaf.

Di titik ini, proses asesmen menjadi semakin menarik.

Ada pengalaman yang panjang.
Ada cerita lapangan.
Ada sudut pandang yang mungkin berbeda.
Dan ada pengetahuan yang tidak selalu ditemukan dalam buku.

Maka, meskipun posisi dalam ruangan adalah sebagai asesor, bukan berarti seluruh proses hanya berjalan satu arah.

Ada saatnya menguji, ada saatnya bertanya, ada saatnya mendengarkan, dan ada saatnya justru belajar.

Barangkali inilah salah satu bagian paling menyenangkan dari menjadi asesor.

Datang membawa kompetensi untuk menilai, tetapi pulang membawa pengalaman baru.

Wakaf Mengajarkan Tentang Amanah

Wakaf memiliki karakter yang berbeda dari sekadar aset biasa.

Di baliknya ada kepercayaan umat.

Ada nilai ibadah.

Ada keberlanjutan manfaat yang diharapkan terus mengalir.

Karena itu, pengelolaan wakaf membutuhkan orang-orang yang tidak hanya memahami pekerjaannya, tetapi juga memiliki kompetensi dan integritas.

Di sinilah tugas asesor menemukan makna yang lebih luas.

Menentukan seseorang kompeten atau belum kompeten bukan sekadar memberi tanda pada lembar asesmen.

Ada tanggung jawab profesional di sana.

Ketika seseorang dinyatakan kompeten, keputusan tersebut harus benar-benar didasarkan pada bukti yang memadai.

Sebaliknya, ketika kompetensi belum terpenuhi, hasil tersebut juga harus disampaikan secara objektif dan profesional.

Tidak ada ruang untuk suka atau tidak suka.

Tidak ada ruang untuk kedekatan personal.

Yang berbicara adalah standar dan bukti.

Ternyata Asesor Juga Harus Terus Belajar

Ada satu pelajaran menarik yang selalu muncul dari proses seperti ini.

Semakin sering bertemu orang-orang yang kompeten, semakin terasa bahwa pengetahuan tidak pernah benar-benar selesai.

Para profesional yang ditemui dalam asesmen membawa pengalaman masing-masing. Dari sana muncul perspektif baru tentang bagaimana wakaf dikelola, bagaimana lembaga dikembangkan, dan bagaimana amanah umat diterjemahkan menjadi kerja kelembagaan.

Ini menjadi pengingat bahwa profesi apa pun akan kehilangan maknanya jika berhenti belajar.

Termasuk menjadi asesor.

Sebab bagaimana mungkin seseorang membantu memastikan kompetensi orang lain jika dirinya sendiri tidak mau terus meningkatkan kompetensi?

Dari UNISSULA, Membawa Pulang Sebuah Pengingat

Hari di UNISSULA akhirnya selesai.

Dokumen asesmen diselesaikan. Laporan disusun. Tugas dituntaskan.

Namun ada sesuatu yang ikut dibawa pulang selain dokumen dan pengalaman.

Sebuah pengingat bahwa kompetensi dan amanah seharusnya berjalan bersama.

Kompetensi tanpa integritas dapat kehilangan arah. Integritas tanpa kompetensi juga belum cukup untuk menjalankan amanah secara profesional.

Terlebih dalam pengelolaan wakaf, yang di dalamnya terdapat kepercayaan dan harapan banyak orang.

Maka menjadi asesor bukan hanya tentang memiliki kewenangan untuk menilai.

Lebih dari itu, ada kewajiban untuk menilai dengan jujur, objektif, adil, dan bertanggung jawab.

Dan mungkin, pada akhirnya, tugas seorang asesor bukan hanya membantu memastikan orang lain memenuhi standar kompetensi.

Tetapi juga terus mengingatkan diri sendiri untuk memenuhi standar yang sama.

“Datang sebagai asesor, pulang sebagai pembelajar.”

Sebuah hari di UNISSULA yang sederhana, tetapi cukup untuk kembali mengingatkan bahwa setiap amanah profesional selalu memiliki pertanggungjawaban di hadapan manusia— dan pada akhirnya, di hadapan Allah.

```

0Komentar

Tambahkan komentar
adsvert
adsvert
adsvert
adsvert