Menyusuri jejak para Guru di Manggarai Barat
Perjalanan ini sebenarnya tidak pernah saya rancang sebagai sesuatu yang besar. Semua dimulai dari langkah kecil, niat yang sederhana, dan keyakinan bahwa bertemu orang-orang, terutama para guru di daerah terpencil, selalu membawa makna yang tidak bisa diukur dengan angka. Lebih dari itu, perjalanan ini berlangsung di bulan yang istimewa, yaitu bulan Ramadhan, di mana setiap langkah terasa lebih bermakna, dan setiap kebaikan seolah memiliki jalannya sendiri.
Tanggal 8 Maret 2026, di tengah suasana Ramadhan yang terasa hangat, perjalanan dimulai dari rumah menuju Kabupaten Purworejo. Pada hari itu, suasana kebersamaan begitu terasa dalam pertemuan Relawan Inspirasi. Kami berbuka bersama, bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga untuk menyatukan tujuan. Kami berdiskusi tentang bagaimana pemberdayaan benar-benar bisa memberikan dampak di Purworejo, bukan sekedar program, tapi perubahan yang nyata dan terasa. Ada harapan yang tumbuh perlahan, tapi terasa sangat kuat.
Kini, di bulan Ramadhan, kami datang kembali. Bukan hanya membawa semangat, tetapi juga bentuk perhatian yang lebih nyata. Kami berbagi cerita, berdiskusi, memberi motivasi, serta menyampaikan amanah berupa uang untuk para guru agar mereka bisa merayakan Idul Fitri dengan lebih lapang. Selain itu, di beberapa sekolah, kami juga membagikan seragam guru, sebuah hal sederhana, namun bagi mereka menjadi simbol penghargaan dan kebanggaan atas profesi yang mereka jalani dengan penuh dedikasi.
Sore harinya, di tanggal yang sama, saya berkesempatan hadir di Sekolah Islam Terpadu Persaudaraan, Labuan Bajo. Di sana, saya bertemu para guru yang penuh semangat. Dalam suasana Ramadhan yang hangat, kami berbincang, berbagi energi, dan saya menyampaikan motivasi, tentang arti menjadi guru, tentang ketangguhan dalam keterbatasan, dan tentang keyakinan bahwa setiap usaha mendidik adalah investasi peradaban. Momen itu terasa hangat dan menguatkan.
Hari berikutnya, perjalanan berlanjut ke Kecamatan Lembor. Tiga sekolah kami kunjungi. Di sini, tantangan terasa lebih nyata. Beberapa sekolah bahkan belum memiliki listrik. Kami menyerahkan bantuan panel surya, sebuah cahaya harapan di bulan yang penuh cahaya. Selain itu, kami juga memberikan unit sound system untuk menunjang kegiatan belajar. Di beberapa titik, pembagian seragam guru kembali dilakukan, menghadirkan senyum-senyum yang tulus dan rasa dihargai yang begitu terasa.
Menjelang sore, kami bergerak menuju Kampung Kolong. Hujan deras mengguyur, membuat jalan tak bisa dilalui kendaraan. Kami harus berjalan kaki. Tiga jam menuju kampung, dan tiga jam kembali. Enam jam perjalanan ditemani hujan, lumpur, dan kelelahan.
Namun semua itu terbayar saat kami tiba dan berbuka puasa bersama di sebuah pesantren sederhana di dalam kampung. Di tengah keterbatasan, kebersamaan terasa begitu utuh. Ramadhan di sana bukan tentang kemewahan, tetapi tentang ketulusan.
Hari berikutnya, kami menuju Kecamatan Mbeliling. Kami disambut hangat oleh Kepala Desa dan warga. Diskusi kami kali ini menyentuh aspek ekonomi. Tentang tanaman aren yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk membuat sopi. Kami menawarkan alternatif, pelatihan pembuatan gula aren dan kolang-kaling. Di bulan Ramadhan, gagasan ini terasa lebih dari sekadar sebuah program. Ia menjadi harapan baru. Warga sangat antusias dalam menyambut, seolah-olah mereka membuka jalan bagi perubahan yang lebih baik.
Sore harinya, perjalanan harus berakhir. Saya kembali ke Jawa, dari Labuan Bajo ke Surabaya, kemudian naik kereta sampai Yogyakarta.
Ramadhan kali ini memberi pengalaman yang berbeda. Di tempat yang jauh dari keramaian, ada orang-orang yang terus berjuang dengan tulus untuk memberikan informasi yang jelas, akurat, dan tepat waktu kepada para pemangku kepentingan, terutama mengenai kinerja dan kondisi keuangan. Guru-guru yang terus mengajar meskipun menghadapi berbagai kendala, tetapi selalu menjaga harapan mereka. Dan mungkin, melalui hal-hal kecil seperti sedikit uang, satu seragam, atau sekadar hadir, kita bisa membantu memperkuat langkah mereka.
Perjalanan ini mengajarkan satu hal : di bulan Ramadhan, setiap tindakan kecil bisa memiliki makna yang besar, asal dilakukan dengan ikhlas.


Posting Komentar