REFLEKSI KEHIDUPAN
Ketika Jendela Lebih Bersih daripada Cermin
Terkadang, kita begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi membutuhkan waktu yang panjang untuk menyadari bagian dari diri sendiri yang perlu dibenahi.
Suatu sore, seorang ayah duduk melamun di teras rumahnya, menatap cangkir kopi yang pecah di lantai. Putranya yang masih kecil baru saja menyenggol meja saat berlari. Rasa kesal langsung membuncah di dadanya.
Kenapa kamu selalu ceroboh?! teriak sang ayah. Sang anak menunduk, matanya berkaca-kaca, meminta maaf dengan suara bergetar.
Malam harinya, saat amarahnya mereda, sang ayah hendak mengambil sajadah di dalam kamar. Tanpa sengaja, ujung sarungnya tersangkut di sudut meja yang sama, hingga sebuah vas bunga di atasnya jatuh dan hancur berantakan.
Seketika ia berhenti. Tidak ada anak kecil yang berlari. Tidak ada orang lain di ruangan itu. Hanya ada dirinya dan meja yang sama.
Di saat itulah dadanya terasa sesak. Ia teringat kejadian sore tadi. Saat anaknya menjatuhkan kopi, ia dengan mudah menuding 100% kesalahan pada kecerobohan sang anak, tanpa mau menyadari bahwa posisi meja itu memang berada di tengah jalur lalu lalang yang sempit. Posisi meja itu ditentukan oleh dirinya sendiri.
Ia lupa menyisakan walau 1% ruang untuk bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah aku juga berperan dalam kekacauan ini?
Menutup Mata dari Pintu Evaluasi Diri
Betapa sering kita berada di posisi sang ayah. Ketika musibah, perselisihan, atau kekecewaan menyapa, jemari kita begitu cepat menunjuk ke luar. Kita mengumpulkan ribuan alasan untuk membuktikan bahwa orang lainlah pemegang 100% kesalahan.
Saat hubungan merenggang, kita merasa pasanganlah yang tak lagi pengertian.
Saat pekerjaan berantakan, kita mengutuk rekan kerja yang tidak kompeten.
Saat rencana gagal, kita menyalahkan takdir dan orang-orang di sekitar kita.
Kita merasa menjadi korban yang sempurna atau victim mentality. Namun, ketika kita memborong seluruh kebenaran dan menimpakan seluruh kesalahan kepada orang lain, ada harga mahal yang harus kita bayar : kita kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.
Kacamata Islam : Muhasabah Sebelum Mengadili
Islam mengajar kita untuk memiliki cermin yang jernih dalam memandang setiap ujian hidup. Ada sebuah ungkapan hikmah yang mengingatkan kita bahwa manusia sering kali lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada kekurangan dirinya sendiri.
Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi lupa akan kayu besar yang melintang di matanya sendiri.
Ungkapan hikmah tentang pentingnya introspeksi diri.
Menyisakan ruang evaluasi diri atau muhasabah bukanlah bentuk kelemahan, melainkan tanda kematangan jiwa. Ketika Nabi Yunus alaihis salam berada di dalam kegelapan perut ikan, sebuah situasi yang sangat menghimpit, beliau memanjatkan doa yang mengandung pengakuan dan ketundukan kepada Allah.
Ù„َا Ø¥ِÙ„َٰÙ‡َ Ø¥ِÙ„َّا Ø£َنتَ سُبْØَانَÙƒَ Ø¥ِÙ†ِّÙŠ Ùƒُنتُ Ù…ِÙ†َ الظَّالِÙ…ِينَ
Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.
QS. Al-Anbiya ayat 87
Beliau menyisakan ruang untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Doa tersebut mengajarkan kita tentang pengakuan, kerendahan hati, dan kesadaran akan keterbatasan manusia di hadapan Allah. Ayat berikutnya menjelaskan bahwa Allah mengabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kesedihan.
Menyisakan 1% Ruang Kerendahan Hati
Mungkin memang benar orang lain melakukan kesalahan kepada kita. Mungkin tindakan mereka menyakiti atau merugikan kita. Namun, menyisakan setitik ruang untuk bertanya tentang bagian diri yang perlu diperbaiki adalah salah satu jalan menuju kedamaian.
Mari bertanya kepada diri sendiri :
Bisakah kita belajar lebih sabar ?
Apakah cara komunikasi kita yang memicu reaksi mereka ?
Atau mungkinkah ekspektasi kita yang terlalu tinggi pada manusia ?
Setiap kejadian yang menimpa kita dapat menjadi pelajaran berharga. Ia bisa menjadi pengingat dari Allah yang perlu dibaca melalui cermin diri, bukan semata-mata melalui jendela penyesalan atas sikap orang lain.
SEBUAH RENUNGAN
Semoga hati kita tidak keras membatu, tetapi selalu menyisakan sedikit ruang kerendahan hati untuk terus membenahi diri sendiri.
