Satu Tiket, Sejuta Terminal, dan Sebuah Misi Hati
Perjalanan kali ini (9/3/2026) sepertinya dirancang oleh algoritma yang sedang ingin menguji kesabaran saya. Bayangkan, titik keberangkatan ada di Temanggung, tapi saya tidak bisa langsung "wush" ke bandara. Saya harus mampir dulu ke Purworejo untuk sebuah acara. Jadi, jika Anda melihat seseorang dengan setelan rapi di Purworejo namun tatapannya sudah menerawang ke arah awan, itu kemungkinan besar saya yang sedang menghitung sisa daya baterai ponsel.
Setelah urusan di Purworejo tuntas, petualangan yang sesungguhnya dimulai. Dari Yogyakarta, saya terbang ke Jakarta. Ya, Anda tidak salah baca. Untuk menuju Labuan Bajo yang ada di timur, saya harus "pemanasan" dulu ke arah barat. Di Bandara Soekarno-Hatta, drama berlanjut dengan ritual pindah terminal menggunakan Kalayang (Skytrain). Di momen inilah saya merasa seperti sedang ikut lomba lari estafet, bedanya tongkat estafet saya adalah tas ransel yang beratnya mulai terasa seperti membawa satu karung beras premium.
Kenapa saya mau menjalani rute "pusing tujuh keliling" ini? Apakah karena saya sangat menyukai aroma avtur atau hobi duduk berjam-jam di kursi tunggu? Tentu tidak. Ada magnet yang jauh lebih kuat dari sekadar rasa lelah. Di ujung perjalanan ini, di pedalaman NTT yang eksotis namun penuh tantangan, ada para pejuang yang tidak terlihat di layar televisi, para guru. Mereka adalah manusia-manusia tangguh yang setiap hari menantang keterbatasan demi memastikan api ilmu tetap menyala di dada anak-anak bangsa.
Melihat pengabdian mereka, rasanya lucu jika saya mengeluh hanya karena harus pindah terminal atau transit beberapa jam. Saya hanya pindah pesawat, sementara mereka memindahkan gunung ketidaktahuan menjadi bukit harapan. Jika perjalanan saya hanya butuh kesabaran menghadapi jadwal penerbangan, mereka butuh kesabaran menghadapi minimnya fasilitas dan akses yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh kita yang tinggal di kota besar.
Jadi, untuk Anda yang saat ini mungkin merasa lelah dengan "rute berliku" dalam hidup, entah itu karier yang mampir-mampir dulu atau impian yang transitnya kejauhan, tetaplah berjalan. Terkadang, rute terjauh memang sengaja diberikan agar kita punya cukup waktu untuk menyiapkan hati sebelum sampai ke tujuan yang mulia. Sampai jumpa di Labuan Bajo, tempat di mana rasa lelah saya akan lunas terbayar oleh senyum ketulusan para pendidik bangsa!


Posting Komentar