Transit Spiritual Antara Jogja, Denpasar, dan Hilal yang Menanti

Daftar Isi


Besok, kalender di dinding akan menandai sebuah awal yang suci. Kita kembali menyapa Ramadhan. Namun, sebelum saya benar-benar menjejakkan kaki di bulan mulia ini, pikiran saya mendadak melayang kembali pada sebuah pagi di tanggal 20 Oktober 2025. Saat itu, saya sedang berada di dalam kabin pesawat, membelah langit dari Yogyakarta menuju Denpasar sebagai titik transit sebelum melanjutkan misi ke Labuan Bajo, NTT.

Ada pemandangan yang tak biasa di deretan kursi saya hari itu. Saya duduk sendirian. Tidak ada percakapan dengan penumpang di sebelah, hanya saya dan jendela yang menampilkan hamparan awan putih yang luas. Dalam keheningan di atas ketinggian itu, saya merasa perjalanan menuju Indonesia Timur tersebut bukan sekadar berpindah koordinat, melainkan sebuah perjalanan untuk menemui diri sendiri.

Duduk sendirian di deretan kursi tersebut mengingatkan saya pada hakikat Ramadhan. Meski kita berpuasa serentak jutaan orang, pada akhirnya setiap sujud dan lapar yang kita rasakan adalah dialog pribadi yang sunyi antara kita dengan Sang Pencipta. Ramadhan adalah "kursi kosong" itu, sebuah ruang yang sengaja disiapkan agar kita bisa berhenti sejenak dari keriuhan dunia dan mulai jujur menatap jejak-jejak hidup yang telah kita lalui.

Perjalanan transit ke Denpasar waktu itu memiliki tujuan yang jelas: Labuan Bajo. Ada tugas besar menanti di NTT demi pendidikan anak-anak negeri. Begitupun dengan Ramadhan esok hari. Ia adalah gerbang transit bagi jiwa. Kita tidak menetap di sini selamanya, kita hanya singgah sebulan untuk mengisi ulang energi, memperbaiki niat, dan mempertajam empati agar saat "lepas landas" kembali nanti, kita menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi sesama.

Kini, 4 bulan setelah perjalanan ke timur itu, saya kembali bersiap untuk "terbang". Bukan lagi menuju Labuan Bajo, melainkan menuju samudera ampunan selama tiga puluh hari ke depan. Kesendirian di atas pesawat waktu itu mengajarkan saya bahwa tak masalah jika perjalanan terasa sunyi, asalkan kita tahu ke mana arah tujuan pulang yang sebenarnya.

Selamat memasuki bulan suci Ramadhan. Mari kita jadikan setiap detik di bulan ini sebagai jejak kebaikan yang tak terhapus oleh waktu. Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf.

Posting Komentar

advertise