Membangun Desa dari Akar Rumput : Diskusi Strategis Koordinator Desa Berdaya dan Wakil Bupati Gunungkidul

Daftar Isi


Suasana khidmat menyelimuti Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul pada Jumat, 20 Februari 2026. Di tengah agenda peluncuran Pesantren Lansia Ramadhan, sebuah momentum istimewa terjadi saat saya berkesempatan berdiskusi akrab dengan Wakil Bupati Gunungkidul, Bapak Joko Parwoto. Pertemuan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan titik temu pemikiran antara dua figur yang memiliki banyak kemiripan latar belakang dan visi pembangunan.

Kami menemukan kecocokan yang unik sejak awal perbincangan. Secara akademis, kami melangkah di jalur yang sama dengan gelar Sarjana Ekonomi (SE) dan Magister Manajemen (MM). Menariknya lagi, semangat haus ilmu tersebut terus berlanjut hingga saat ini. kami berdua sedang berjuang menempuh program doktoral. Jika beliau sedang mendalami S3 Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan untuk memperkuat landasan kepemimpinannya, saya sendiri tengah fokus pada S3 Manajemen untuk mempertajam tata kelola organisasi dan bisnis sosial.

Jiwa kewirausahaan yang berbasis alam juga menjadi benang merah yang kuat di antara kami. Bapak Joko Parwoto dikenal lewat dedikasinya mendirikan Green Hotel Coffee Shop dan Green Farm Rest Area di Pracimantoro dengan konsep go green serta kebun alpukat organiknya. Prestasi beliau dalam manajemen bisnis pun telah diakui lewat penghargaan Citra Satya Adhi Karya Persada. Di sisi lain, saya berbagi cerita mengenai Sekolah Tani Masyarakat (STM) yang saya rintis, yang di dalamnya juga mengelola unit farm serta pengembangan bisnis kopi di Temanggung.

Dalam kapasitas saya sebagai Koordinator Wilayah Program Desa Berdaya Rumah Zakat untuk wilayah Yogyakarta, Aceh, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah Bagian Selatan, diskusi kami berkembang pada isu-isu strategis. Kami membedah bagaimana lembaga filantropi dapat bersinergi secara taktis dengan pemerintah daerah dalam mengentaskan kemiskinan. Beliau memaparkan tantangan nyata yang dihadapi Gunungkidul, mulai dari isu stunting, kesejahteraan lansia, hingga kemiskinan ekstrem yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Namun, di balik tantangan tersebut, kami sepakat bahwa Gunungkidul menyimpan potensi luar biasa pada sektor pariwisata, pertanian, hingga industri garmen. Pertemuan di Pacarejo ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara pembuat kebijakan dan penggerak swadaya masyarakat adalah kunci. Dengan kesamaan visi sebagai akademisi dan praktisi bisnis, saya optimis sinergi antara program Desa Berdaya dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dapat menciptakan dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat.

Posting Komentar

advertise