Di Antara Lapar, Tanggung Jawab, dan Waktu yang Berlari

Daftar Isi


25 Februari 2026 — Pagi itu dimulai dengan rasa hening yang berbeda. Bukan hanya karena hari baru, tapi karena tubuh sedang berpuasa di bulan Ramadhan, ada jeda yang lebih dalam, ada kesadaran yang lebih pelan, seolah setiap detik berjalan dengan makna yang lebih terasa.

Di depan saya, laptop sudah menyala. Layarnya memancarkan cahaya yang sama seperti hari-hari lain, tapi hari ini terasa lebih berat. Ini adalah batas waktu rekap laporan Relawan Inspirasi Desa Berdaya Rumah Zakat untuk wilayah Aceh, Sumatera Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah yang berada dalam koordinasi saya.

Spreadsheet terbuka panjang seperti jalan tanpa ujung.

Di momen itu, saya tersenyum tipis. Di sini, ada kursi empuk CEO yang biasanya menunggu laporan datang. Tapi kali ini saya punya peran berbeda. Walaupun ada satu orang yang membantu, tetap saja saya harus tenggelam langsung dalam angka dan data.

Dan entah kenapa, justru itu terasa jujur.

Ramadhan seperti mengajarkan kembali tentang kesederhanaan, bahwa jabatan hanyalah atribut, sementara tanggung jawab adalah esensi. Kita tidak selalu berada di posisi memberi perintah, kadang kita harus menjadi orang yang memastikan detail terkecil tidak terlewat.

Menjelang siang, energi mulai terasa menurun. Bukan hanya karena pekerjaan, tapi karena perut yang kosong dan tenggorokan yang kering. Namun justru di situlah fokus terasa lebih tajam, seolah setiap klik dan setiap angka menjadi lebih bermakna.

Belum selesai satu medan, saya harus berpindah ke medan lain, review jurnal untuk tugas kuliah S3 Ilmu Manajemen. Besok Sabtu jadwal presentasi.

Membaca jurnal dalam kondisi berpuasa itu rasanya unik, pikiran harus tetap tajam sementara tubuh mengingatkan untuk melambat. Setiap teori seperti mengajak berdialog, setiap paragraf menuntut kesabaran. Ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan tergesa, karena ilmu selalu meminta ketekunan sebagai harga masuknya.

Sore hari datang seperti oase kecil di tengah padatnya hari. Saya menutup laptop dan berangkat menuju pondok pesantren tempat anak saya belajar. Kali ini saya menjemputnya pulang karena besok ia dijadwalkan foto KTP.

Baru 16 tahun.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, waktu terasa berjalan diam-diam, tiba-tiba anak yang dulu digandeng kini sudah bersiap memiliki identitas resminya sendiri.

Di mobil, kami berbincang panjang. Tentang kehidupan di pesantren, tentang mimpi, tentang hal-hal sederhana yang justru terasa hangat. Di tengah percakapan itu, saya merasa waktu seperti melambat, seolah Allah memberi ruang kecil untuk menikmati momen sebelum hari kembali sibuk.

Saya sadar, mungkin inilah salah satu nikmat terbesar, bisa hadir sepenuhnya, mendengar tanpa tergesa, tertawa tanpa beban.

Malam tiba.

Setelah sampai rumah, saya kembali ke tempat yang sama sejak pagi, di depan laptop. Layar yang tadi pagi terasa seperti medan kerja, kini terasa seperti saksi perjalanan hari.

Rasa lelah ada. Rasa lapar tentu masih terasa. Tapi ada ketenangan yang sulit dijelaskan.

Ramadhan selalu punya cara unik mengajarkan makna, bahwa kekuatan bukan hanya tentang energi fisik, tapi tentang niat, kesabaran, dan keikhlasan menjalani peran demi peran.

Hari ini saya menjadi banyak hal sekaligus, koordinator yang memastikan laporan selesai, mahasiswa yang mengejar pemahaman, ayah yang menjemput anak, dan seorang hamba yang sedang belajar menahan diri.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorotan. Hanya layar laptop, perjalanan sore, percakapan di mobil, dan rasa lapar yang diam-diam menguatkan hati.

Ketika laptop akhirnya ditutup, ada perasaan yang pelan mengalir, hari ini melelahkan, tapi penuh makna.

Karena ternyata, dalam diamnya kerja dan dalam laparnya puasa, kita belajar bahwa hidup bukan tentang menjadi besar di mata orang lain, melainkan tentang setia menjalani amanah sekecil apa pun dengan sepenuh hati.

Dan di ujung hari, saya menyadari satu hal sederhana. Kadang hari yang paling kuat bukan hari ketika kita paling terlihat, tetapi hari ketika kita tetap melangkah meski lelah, tetap fokus meski lapar, dan tetap hadir meski dunia berjalan cepat.

Besok akan datang lagi dengan ceritanya sendiri. Tapi malam ini, ada rasa syukur yang hangat, karena satu hari Ramadhan telah dilalui dengan penuh arti.

Posting Komentar

advertise