Antara Langit Halim, Kereta Malam, dan "Jebakan Batman" di Aula Sendiri
Ada sebuah seni tersendiri dalam menjalani hidup yang serba cepat, sebuah seni yang seringkali memaksa kita untuk menertawakan rencana kita sendiri di hadapan takdir. Perjalanan saya kali ini adalah contoh nyatanya. Bayangkan saja, burung besi yang saya tumpangi baru benar-benar menyentuh landasan pacu di Halim Perdanakusuma pada pukul 15.30. Saat itu, aroma Jakarta yang sibuk baru saja mulai terhirup, namun di saat yang bersamaan, jam dinding seolah berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Hanya ada jeda beberapa jam bagi saya untuk menyelesaikan urusan sebelum akhirnya saya harus kembali bergegas. Pukul 22.50, di hari yang sama, saya sudah kembali mendekap tas dan duduk manis di dalam gerbong kereta yang melaju membelah sunyi malam menuju Yogyakarta. Rekor ini mungkin terasa seperti "transit berbayar" atau perjalanan kilat yang melelahkan bagi sebagian orang, namun bagi saya, ini adalah tentang sebuah janji yang harus ditepati di kampung halaman.
Alasan di balik kepulangan kilat ini sangatlah sakral, yakni Musyawarah Daerah Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Daerah Temanggung. Menariknya, perhelatan besar ini diadakan di "rumah" sendiri, tepatnya di aula kantor saya. Sebagai tuan rumah, saya sudah membayangkan skenario yang cukup tenang: berdiri di pojok ruangan dengan senyum ramah, memastikan setiap tamu mendapatkan kopi terbaik, dan memastikan suhu ruangan tetap nyaman. Intinya, niat hati ini murni ingin menjadi pelayan tamu yang teladan tanpa harus banyak tampil di depan.
Namun, di sinilah letak humor dalam kehidupan berorganisasi yang seringkali penuh kejutan. Menjadi tuan rumah ternyata memiliki "risiko" tersembunyi. Mungkin karena saya yang empunya tempat, atau mungkin karena dianggap paling siap menghadapi situasi, sebuah amanah baru justru mendarat dengan mulus tepat di pundak saya. Di tengah keriuhan acara, saya justru didaulat menjadi Ketua Dewan Pengawas. Perasaan saya saat itu seperti seseorang yang mengundang teman-teman untuk makan malam di rumah, namun saat mereka datang, mereka justru sepakat menunjuk saya menjadi Ketua RT saat itu juga.
Kejadian ini menyadarkan saya bahwa amanah memang tidak pernah salah alamat. Kita mungkin seringkali merasa belum siap atau merasa jadwal sudah terlalu sesak, namun ketika lingkungan dan orang-orang kepercayaan memberikan mandat, itu adalah isyarat bahwa ada kapasitas dalam diri kita yang barangkali belum kita sadari sepenuhnya. Lelah fisik akibat perjalanan Jakarta-Yogyakarta-Temanggung dalam hitungan jam seolah terbayar dengan kesadaran bahwa hidup akan sangat membosankan jika semua berjalan kaku sesuai rencana di atas kertas.
Pada akhirnya, karakter kita dibentuk bukan saat semuanya berjalan santai, melainkan saat kita harus mengejar kereta malam demi tanggung jawab yang menanti di pagi hari. Bagi saya, aula kantor itu bukan sekadar tumpukan bata dan semen, melainkan ruang tempat kita menyemai masa depan. Meski harus beradu dengan waktu dan menerima kejutan jabatan yang tak terduga, saya percaya bahwa setiap peluh dalam memperjuangkan pendidikan adalah investasi yang takkan sia-sia. Mari kita terus melaju, karena masa depan anak bangsa tak bisa menunggu kita selesai beristirahat.


Posting Komentar