Antara Jembatan Tinggi dan Pilihan Hati, Catatan Relawan di Atas Kursi Panoramic

Daftar Isi


Ketukan palu terakhir di Bandung menandai tuntasnya satu babak perjuangan. Setelah satu hari yang padat dengan diskusi dan penyusunan strategi pemberdayaan, ada rasa lega yang membuncah ketika kaki melangkah masuk ke gerbong Argo Wilis Panoramic. Memilih kereta ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan upaya untuk menghargai diri sendiri sebelum kembali terjun ke lapangan. Saat kereta perlahan bergerak dan Masjid Al Jabbar terlihat anggun di balik atap kaca, muncul sebuah refleksi, keberhasilan program pemberdayaan, seperti halnya arsitektur masjid itu, selalu bermula dari visi yang luas dan kesediaan untuk "terapung" di atas berbagai tantangan demi memberikan manfaat bagi banyak orang.

Perjalanan berlanjut dengan tantangan visual yang mendebarkan kala kereta mulai meniti jembatan-jembatan tinggi yang membelah lembah. Menatap lurus ke bawah melalui jendela kaca raksasa seolah memaksa kita untuk berdamai dengan rasa takut. Menjadi Relawan Inspirasi memang sering kali terasa seperti berjalan di atas jembatan, kita berdiri di antara realitas yang sulit dan harapan yang tinggi. Namun, jika konstruksi besi kereta ini begitu kokoh menahan beban, maka integritas dan semangat kita pun harus jauh lebih kuat untuk menjembatani masyarakat menuju kemandirian. Kalau jembatan ini saja bisa menghubungkan dua gunung, tentu program kita pun bisa menghubungkan mimpi-mimpi warga yang selama ini terputus.

Suasana mendadak senyap dan redup taktala kereta "ditelan" oleh terowongan gelap yang panjang. Cahaya matahari yang tadi melimpah seketika hilang, menyisakan pantulan wajah yang penuh tanda tanya di kaca gerbong. Di dalam kegelapan ini, muncul sebuah humor kecil, mungkin ini seperti ketika kita sedang pusing memikirkan laporan keuangan atau menghadapi hambatan birokrasi yang melelahkan. Namun, terowongan ini mengajarkan kita untuk tetap tenang. Di bawah bumi yang gelap sekalipun, roda tetap berputar karena ada jalur yang pasti. Begitu juga dalam pemberdayaan, meski sedang berada di fase yang paling buram dan sunyi, selama kita tetap pada jalur visi yang benar, cahaya di ujung sana pasti akan menyambut dengan pelukan hangat.

Cahaya kembali benderang saat kereta keluar dari perut bumi, disambut oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas hingga ke kaki langit Jawa Tengah. Keindahan yang tertangkap dari balik kaca Panoramic ini adalah "obat" terbaik bagi jiwa yang lelah. Memasuki wilayah Purworejo, ritme kereta mulai melambat seolah memberi waktu bagi kita untuk mengemas kembali semangat yang baru. Stasiun Kutoarjo sudah menanti di depan mata, bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai titik transisi penting. Di sini, perjalanan rel besi berakhir, namun estafet perjuangan baru saja akan dimulai dengan kendaraan yang berbeda.

Begitu kaki menapak di peron Stasiun Kutoarjo, perjalanan segera berlanjut dengan mobil yang akan mendaki menuju Temanggung. Dari kemewahan kaca Panoramic, kita kini bersiap menghadapi liku jalanan pegunungan dan udara dingin lereng Sindoro-Sumbing. Perjalanan panjang dari Bandung ke Kutoarjo telah mengisi ulang "baterai" inspirasi hingga penuh. Sekarang, tugas nyata sudah menunggu di depan mata. Dengan membawa bekal pengalaman dari kota dan kejernihan pikiran dari sepanjang jalur kereta, kita melaju menuju Temanggung untuk satu tujuan, memastikan bahwa setiap rencana pemberdayaan yang telah disusun tidak hanya berakhir sebagai wacana, tapi tumbuh subur seperti tanaman tembakau di tanah pegunungan.

Posting Komentar

advertise