15 JAM DI ANTARA AWAN, REL, DAN TAKDIR
Terik matahari Ahad (08/02/2026) di landasan pacu Adisutjipto Yogyakarta terasa menusuk, namun panasnya tak sebanding dengan debar di dada saya. Jarum jam tangan menunjuk tepat pukul 14.00. Di ambang pintu pesawat Fly Jaya, saya sempat menoleh ke belakang, menatap ketenangan hari libur yang saya tinggalkan. Di sinilah saya belajar bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari sofa yang empuk, melainkan dari keberanian untuk melangkah keluar saat orang lain memilih untuk diam. Langkah pertama saya memasuki kabin pesawat adalah sebuah pernyataan bahwa untuk mencapai tujuan besar, saya harus bersedia menempuh perjalanan yang tidak biasa. Di dalam tas saya bukan sekadar berkas, melainkan harapan ribuan anak NTT yang beratnya melampaui bagasi mana pun.
Pukul 15.30, roda pesawat menyentuh aspal Halim Perdanakusuma. Saya hanya memiliki waktu 30 menit untuk menembus jantung kemacetan Jakarta. Secara logika logistik, ini adalah kemustahilan yang nyata. Namun, dalam kamus dedikasi, mustahil hanyalah sebuah opini bagi mereka yang belum mencoba. Saya bergerak dengan keyakinan bahwa alam semesta selalu membukakan jalan bagi niat yang tulus. Menembus kemacetan dalam waktu sesingkat itu adalah sebuah keajaiban administratif yang membuktikan bahwa seringkali kita menyerah bukan karena keadaan, tapi karena kita membatasi kemampuan diri sebelum berjuang. Tepat pukul 16.00, tanpa jeda dan tanpa keluhan, saya sudah duduk tegak di ruang rapat.
Di dalam ruangan itu, suhu dingin AC beradu dengan panasnya argumen intelektual. Saya berhadapan dengan Rektor dan para tokoh masyarakat NTT yang kehadirannya laksana bintang yang sedang berkonjungsi, langka dan tak boleh disia-siakan. Empat jam berikutnya adalah pertarungan ide demi program pendidikan 2026. Di sela diskusi, saya menyadari bahwa lelah fisik adalah harga yang sangat murah untuk sebuah keputusan yang akan mengubah garis nasib generasi masa depan. Rasa capek itu sementara, namun dampak dari sebuah komitmen yang tuntas akan abadi. Ketika palu diketuk pada pukul 20.00, saya diingatkan kembali bahwa seorang pemimpin adalah mereka yang bersedia lelah di jalan, agar orang lain bisa menikmati jalan menuju kemajuan.
Pukul 22.50, Stasiun Gambir menjadi saksi keheningan perjuangan. Saat Kereta Manahan mulai bergerak meninggalkan gemerlap Jakarta, saya bersandar pada kursi gerbong yang sunyi. Suara roda kereta di atas rel menjadi ritme yang menenangkan jiwa. Di sinilah saya merenung bahwa istirahat bukanlah tanda menyerah, melainkan proses mengumpulkan energi untuk ledakan besar berikutnya. Pejuang sejati adalah mereka yang tahu kapan harus memejamkan mata sejenak, agar esok pagi mereka bisa melihat peluang dengan visi yang lebih tajam. Dalam goyangan kereta menuju Jogja, tubuh saya memang remuk, namun semangat saya justru sedang melakukan pengisian daya.
Fajar menyingsing saat saya turun di Yogyakarta pukul 05.40. Tanpa sempat menghirup aroma kopi pagi dengan santai, saya langsung melesat menuju Temanggung. Gunung Sindoro dan Sumbing menyambut dengan kemegahannya, seolah memberikan hormat pada perjalanan 15 jam ini. Tidak ada ruang untuk jetlag atau mengasihani diri sendiri, karena di meja kantor, tanggung jawab lain sudah menanti. Perjalanan ini menutup sebuah siklus, namun membuka kesadaran baru : Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena kita merasa lelah. Keberhasilan bukan milik mereka yang memulai dengan cepat, tapi milik mereka yang tetap tegak berdiri hingga garis finish terakhir. Jika hari ini saya bisa menembus batas waktu ini, maka esok tidak ada alasan bagi saya untuk kalah oleh tantangan apa pun.


Posting Komentar