Ternyata Kita Semua Adalah CEO Yang Menyamar

Daftar Isi

Di kantor, orang-orang memanggil saya dengan sebutan "Pak CEO". Kedengarannya mentereng dan penuh kuasa ya? Padahal realitanya, mau saya masuk kantor atau tidak, sepertinya jarang ada yang peduli, kecuali kalau tumpukan berkas sudah setinggi gunung dan butuh tanda tangan saya agar "roda nasib" perusahaan tetap berputar. Dengan 240 karyawan yang menjadi tanggung jawab saya, tugas utama saya memang bukan absen jempol setiap pagi di kantor, melainkan memastikan semua rencana besar berjalan di relnya dan target terpenuhi tepat waktu.

Banyak orang yang iri dan menganggap hidup saya sangat bebas karena bisa "bolos" kapan saja. Padahal, ini adalah sebuah jebakan batman. Memang benar saya punya kebebasan untuk masuk kantor atau tidak, tapi sebetulnya saya lebih banyak terikat dengan jadwal yang padatnya melebihi jadwal konser tur dunia. Bedanya hanya satu : jadwal itu harus saya setujui dulu sebelum sah menyiksa waktu saya. Jadi, kebebasan saya itu sebenarnya adalah kebebasan untuk memilih sendiri mana "kesibukan" yang mau saya hadapi. Sebuah kemewahan yang dibayar dengan tanggung jawab besar.

Namun, terlepas dari jabatan di kartu nama, kita sering berpikir bahwa gelar CEO itu eksklusif hanya milik orang-orang yang hobi pakai turtleneck hitam, punya jam tidur cuma 4 jam, dan hobi posting kutipan motivasi di LinkedIn dengan latar belakang gedung pencakar langit. Kita sering membatin, "Ah, saya mah apa, cuma staf biasa yang kalau tanggal tua makannya mi instan dicampur doa." Tapi, coba benerin kerah baju Anda sekarang, karena ada rahasia besar: Sebenarnya kita semua adalah CEO yang sedang menyamar.

Mengapa demikian? Kalau definisi CEO perusahaan adalah orang yang memimpin visi-misi strategis demi keberlangsungan bisnis, bukankah kita melakukan hal yang sama setiap hari? Bedanya, "perusahaan" yang kita pimpin tidak terdaftar di bursa efek, melainkan terdaftar di catatan amal dan kehidupan. Kita adalah CEO of Me, Inc.—pemegang saham tunggal atas diri kita sendiri. Keputusan untuk bangun pagi tepat waktu atau pencet tombol snooze lima kali adalah keputusan strategis manajerial yang menentukan apakah "perusahaan" kita hari itu akan profit atau malah rugi bandar.

Cakupan kepemimpinan kita bahkan jauh lebih luas dari sekadar urusan operasional kantor. Kita adalah CEO bagi keluarga, pengaruh bagi teman, dan pilar bagi lingkungan. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa setiap dari kita adalah pemimpin (ra’in) dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Jadi, tidak perlu menunggu punya karyawan ratusan orang untuk merasa jadi bos. Saat Anda memutuskan untuk tetap sabar menghadapi anak yang tumpahin susu di karpet, atau memilih untuk jujur saat ditanya teman, di situlah Anda sedang menjalankan fungsi manajerial tingkat tinggi sebagai pemimpin karakter.

Tugas utama kita sebagai CEO diri sendiri adalah menentukan Visi dan Misi. Mau dibawa ke mana hidup ini? Apakah kita hanya ingin "survive" sampai akhir bulan, atau ingin menjadi "perusahaan" yang memberikan manfaat luas bagi orang lain? CEO yang buruk hanya memikirkan keuntungan pribadi, tapi CEO yang visioner memastikan keberlangsungan hidupnya juga bermanfaat bagi "ekosistem" di sekitarnya. Kita punya tanggung jawab memastikan diri kita terus berkembang, belajar, dan tidak "bangkrut" secara moral maupun spiritual.

Jadi, mulailah bersikap layaknya pemimpin hebat. Berhentilah menunggu kartu nama dengan jabatan mentereng untuk mulai bertindak bijak. Setiap keputusan yang Anda ambil hari ini, mulai dari apa yang Anda konsumsi hingga bagaimana Anda memperlakukan orang lain, adalah cerminan dari kualitas kepemimpinan Anda. Ingat, gedung bertingkat bisa roboh, tapi integritas seorang CEO diri sendiri akan tetap berdiri tegak meski badai ekonomi maupun badai kehidupan menerjang.

Selamat bekerja, Pak, Bu, Mas dan Mbak CEO!


Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo

Posting Komentar

advertise