Sehari di Ibu Kota : Kisah Terbang Pagi Pulang Sore Menembus Awan Jakarta
Membangun masa depan itu terkadang tidak butuh koper besar, cukup niat yang bulat dan kesiapan untuk menempuh perjalanan lintas udara yang dinamis. Tepat jam 06.00 pagi di hari Senin (5 Januari 2026) yang cerah ini, saat kota masih berselimut embun, kami bertiga sudah meluncur dari rumah. Perjalanan ini adalah bentuk ikhtiar nyata, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al-Jumu'ah (62:10): “Maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.” Dengan semangat menjemput karunia itulah, kami bergerak menuju Jakarta untuk sebuah misi penting : Memastikan MoU.
Jam 09.40, kami mengudara dari Bandara Adisucipto menggunakan Fly Jaya. Sebelum naik, kami memastikan semua dokumen siap dan hati pun mantap. Di titik ini, kami berserah diri sesuai pesan dalam Surah Ali 'Imran (3:159): “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” Pengalaman naik pesawat ATR ini memberikan sensasi tersendiri; deru mesin baling-balingnya yang mantap seolah menjadi musik pengiring perjuangan yang gagah. Kabin ATR terasa lebih "hidup" dan dekat dengan awan, memberikan kita perspektif bahwa setiap jengkal perjalanan menuju sukses memang harus dinikmati ritmenya dengan tenang.
Mendarat jam 11.00 di Halim Perdanakusuma, kami disambut oleh hawa Jakarta yang langsung memberikan "pelukan hangat". Namun, kejutan luar biasa terjadi di kantor tujuan. Kami mengira urusan ini akan alot dan memakan waktu hingga malam, namun ternyata Allah membuka pintu-pintu kemudahan. Prosesnya begitu cepat dan efisien, seolah semesta sepakat bahwa misi kami hari itu harus segera tuntas. Kami pun teringat janji Allah dalam Surah Al-Insyirah (94:6): “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Kemudahan ini adalah berkah yang membuat kami sudah bisa kembali ke bandara saat matahari masih tinggi.
Jam 16.00, kami sudah kembali duduk manis di dalam kabin Fly Jaya untuk penerbangan pulang. Hanya butuh waktu 70 menit untuk kembali mendarat di Adisucipto pada jam 17.10—sebuah rekor perjalanan kilat yang sangat kami syukuri. Akhirnya, jam 21.00 kami sampai kembali di rumah. Lelah? Tentu saja. Namun, ada kepuasan yang tidak bisa dibayar dengan uang ketika melihat misi tercapai tanpa harus kehilangan waktu berharga bersama keluarga. Perjalanan hari ini mengajarkan bahwa sukses bukan soal seberapa lama kita pergi, tapi seberapa efektif kita bergerak dan seberapa besar syukur kita atas setiap kemudahan yang diberikan-Nya.
Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo


Posting Komentar