Melampaui Batas Awan : Apa yang Saya Temukan dalam 30 Kali Perjalanan Udara

Daftar Isi

 

Kalau diingat-ingat, tahun 2025 kemarin benar-benar jadi tahun yang "melayang" buat saya. Bayangkan, saya sampai harus naik pesawat 30 kali! Kenapa harus sesering itu? Jawabannya simpel: karena saya tidak mau cuma jadi penonton. Saya memilih untuk jemput bola, mendatangi peluang langsung ke sumbernya, dan membangun koneksi yang nggak dapat kalau cuma lewat Zoom. Ternyata, duduk di kursi pesawat sesering itu memberikan saya "sekolah kehidupan" yang nggak ada di buku teks mana pun.

Pelajaran pertama yang paling terasa adalah soal seni melepaskan. Gara-gara sering check-in, saya jadi paham kalau bawa beban berlebih itu cuma bikin repot dan bayar mahal. Ternyata hidup juga begitu. Kita sering bawa "bagasi emosional" atau masa lalu yang berat di pundak. Lewat perjalanan ini, saya belajar buat memilah mana yang penting dibawa ke depan dan mana yang mending ditinggal saja biar langkah kita lebih enteng.

Terus, kalau bicara soal turbulensi, jujur awalnya saya sering deg-degan. Tapi seiring frekuensi terbang lebih banyak, saya jadi lebih santai. Saya sadar kalau guncangan di udara itu hal biasa, sama kayak hambatan di karier atau hidup. Itu bukan tanda kita mau jatuh, tapi cuma tanda kalau "cuaca" lagi berubah. Selama kita tetap tenang dan percaya sama prosesnya, kita pasti sampai juga ke tujuan. Jadi, jangan gampang menyerah ya kalau hidup lagi agak goyang!

Satu hal yang paling saya suka adalah momen pas melihat ke luar jendela. Dari atas sana, kota yang sangat besar pun kelihatan kayak mainan kecil. Ini jadi pengingat buat diri sendiri kalau masalah kita yang kelihatannya raksasa itu sebenarnya kecil kalau dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Jadi, jangan sampai kita stres setengah mati cuma gara-gara urusan sepele. Naikkan sedikit "ketinggian jelajah" berpikir kita, biar bisa lihat gambaran besarnya.

Terakhir, 30 kali terbang ini benar-benar mendidik saya soal disiplin waktu. Di bandara, telat semenit saja urusannya bisa panjang. Saya jadi makin menghargai waktu, baik waktu sendiri maupun waktu orang lain. Intinya, kalau kita bisa mengatur jadwal dengan baik, kita sebenarnya lagi belajar buat memegang kendali atas hidup kita sendiri.

Ternyata benar, pesawat itu memang paling aman kalau diam di hanggar, tapi bukan untuk itu ia dibuat. Kita pun sama; kita diciptakan untuk berani melangkah, menembus awan, dan mengejar mimpi-mimpi tinggi yang tadinya cuma berani kita bayangkan.

Oleh : Muhammad Anantiyo Widodo

1 komentar

Ratno Sungkowo
Jumat, 16 Januari, 2026 Hapus
Masyaa Allah...
advertise