Manajemen Air Mata : Seni Mencicil Deadline S3 Saat Mata Mengajak Mogok Kerja
Minggu ini saya benar-benar diuji oleh ilmu yang saya pelajari sendiri. Sebagai mahasiswa S3 Ilmu Manajemen, saya sering bicara tentang efisiensi dan optimasi, namun mata saya tampaknya punya agenda manajemen risiko sendiri. Di tengah gempuran deadline Ujian Akhir Semester, mata saya justru memutuskan untuk melakukan aksi mogok kerja massal. Rasanya pegal luar biasa, perih, dan terus-menerus mengeluarkan air mata. Orang yang melihat mungkin akan mengira saya sedang sangat emosional karena terlalu menghayati teori-teori manajemen yang rumit, padahal kenyataannya menatap monitor laptop saja rasanya sudah seperti menatap matahari di siang bolong.
Kondisi ini menjadi semakin "ajaib" karena realita hidup tidak berhenti hanya di meja belajar. Di satu sisi ada tugas akademik yang menuntut ketajaman berpikir, di sisi lain ada tumpukan pekerjaan, rentetan rapat, hingga jadwal bepergian keluar kota yang tidak bisa ditawar. Menjadi seorang pemimpin sekaligus pelajar di tingkat doktoral memaksa saya untuk mempraktikkan manajemen waktu yang ekstrem. Bayangkan saja, di sela-sela perjalanan dinas atau di ruang tunggu, saya harus bergelut dengan jurnal dan layar monitor sambil berkali-kali menyeka air mata. Bukan karena sedih, tapi karena mata saya sudah benar-benar mencapai titik jenuhnya.
Namun, di sinilah saya belajar tentang esensi ketangguhan yang sebenarnya. Saya menyadari bahwa memaksakan diri menjadi "superman" dalam satu malam hanya akan memperburuk keadaan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menggunakan strategi cicilan alias "pelan-pelan asal kelakon." Setiap paragraf tugas UAS saya susun dengan penuh kesabaran; sedikit mengetik, lalu istirahat memejamkan mata sejenak, kemudian lanjut lagi. Tidak ada akselerasi instan, yang ada hanyalah konsistensi untuk terus bergerak meski dalam ritme yang melambat.
Setelah satu pekan penuh perjuangan antara kompres air dingin dan ketikan demi ketikan, akhirnya tugas itu rampung juga. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa dalam perjalanan meraih gelar doktor maupun dalam memimpin organisasi, kesehatan adalah modal utama yang sering kita abaikan. S3 memang melatih otak, tapi prosesnya juga menguji fisik dan mental. Ternyata, keberhasilan bukan selalu tentang siapa yang paling cepat sampai, tapi tentang siapa yang paling mampu bertahan mengelola keterbatasannya hingga garis finis. Kini, setelah semua selesai, hadiah terbaik bagi saya bukanlah nilai A, melainkan kesempatan untuk menjauhkan mata dari layar monitor sejenak.


Posting Komentar