Kisah Pemain Tetris Kehidupan : Mencari Celah Waktu di Antara Jurnal dan Rapat

Daftar Isi


Kalau ada yang bertanya apa hobi saya saat ini, jawaban jujur saya bukan lagi "membaca" atau "olahraga", melainkan "mencuri waktu". Bagaimana tidak? Di saat mahasiswa S3 lainnya mungkin sedang galau memikirkan metodologi penelitian yang tak kunjung temu, saya harus membagi kepala saya menjadi sepuluh bagian.

Bayangkan sebuah pagi yang ideal bagi saya : terbangun dengan draf jurnal ilmiah di meja, namun ponsel sudah bergetar karena laporan dari KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah) tentang perputaran likuiditas. Belum sempat menyeruput kopi, saya harus beralih peran menjadi pembina yayasan pendidikan yang mengelola sekolah-sekolah di pelosok Indonesia Timur. Di sana, urusannya bukan lagi soal nilai ujian, tapi soal bagaimana guru-guru honorer bisa tetap tersenyum meski sinyal internet di sana lebih langka daripada kejujuran politisi.

Sebagai CEO perusahaan dan pengelola biro umrah, waktu bagi saya adalah mata uang yang nilainya lebih mahal dari Bitcoin. Terlambat sedikit mengurus paspor jemaah, risikonya adalah air mata mereka di bandara. Tapi tunggu, jangan lupakan sisi "agraris" saya. Di sela-sela kesibukan itu, saya juga mendirikan Sekolah Tani. Mengapa? Karena saya percaya, gelar Doktor saya tidak akan kenyang kalau para petani kita masih bingung cara mengolah tanah. Jadi, jangan heran kalau suatu hari Anda melihat saya sedang berdiskusi tentang prophetic leadership untuk disertasi, lalu sejam kemudian saya sedang membahas pupuk organik dengan para petani.

Masih kurang? Mari tambahkan peran sebagai Ketua Karang Taruna desa. Di sini, saya bukan lagi Pak CEO atau Pak Doktor, tapi "Mas" yang harus siap sedia kalau ada tenda hajatan warga yang belum terpasang atau ada turnamen voli antar-RT yang butuh bantuan. Ditambah lagi amanah sebagai Koordinator Wilayah Relawan Inspirasi, yang menuntut saya memastikan semangat kebaikan terus menular tanpa peduli saya sendiri sedang lelah atau tidak.

Lalu, bagaimana saya menjaga ketepatan waktu di tengah sirkus kehidupan ini?

Jujur saja, ketepatan waktu bagi saya adalah sebuah bentuk "akrobat" spiritual. Jika saya telat hadir di rapat yayasan sosial atau rapat lainnya, saya merasa sedang mengorupsi hak mereka. Ketepatan waktu adalah satu-satunya cara saya menghormati setiap orang yang telah menitipkan amanah di pundak saya. Saya sering merasa seperti pemain Tetris tingkat dewa; setiap detik harus diletakkan pada posisi yang pas agar tidak terjadi game over.

Tentu saja, ada momen-momen humoris yang tragis. Seperti saat saya harus ikut meeting akademik S3 via Zoom dari pinggir sawah, atau saat saya salah masuk grup WhatsApp—mengirim instruksi strategis perusahaan ke grup Karang Taruna yang sedang bahas jadwal ronda. Rasanya ingin hilang dari bumi saat itu juga, tapi ya itulah seninya.

Menjadi sibuk itu mudah, tapi menjadi bermanfaat secara presisi itu yang sulit. Kuliah S3 ini mengajarkan saya cara berpikir mendalam, tapi semua kegiatan kemasyarakatan ini mengajarkan saya cara hidup yang bermakna. Saya belajar bahwa waktu tidak pernah kurang bagi mereka yang tahu untuk siapa waktu itu digunakan.

Jadi, kalau Anda melihat saya berlari-lari kecil di bandara atau duduk termenung di pojok kafe dengan laptop dan tumpukan berkas yayasan, jangan kasihan pada saya. Saya sedang menikmati hidup sebagai "kurir amanah". Karena pada akhirnya, saya tidak ingin hanya dikenal sebagai seseorang dengan rentetan gelar di depan nama, tapi sebagai seseorang yang—meski sibuknya minta ampun—selalu tepat waktu saat dibutuhkan oleh sesama.

Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo

Posting Komentar

advertise