Kebersamaan yang Menyelamatkan Kayuhan Merah Putih Menuju Finis Jembatan Pandansimo

Daftar Isi

Perjalanan gowes kali ini (27/01/2026) mengambil rute dari Desa Triwidadi menuju Jembatan Pandansimo, sebuah jalur yang sebenarnya cukup bersahabat karena didominasi oleh lintasan yang landai dan tidak terdapat banyak tanjakan yang berarti. Di atas MTB merah putih yang saya kendarai, jalanan aspal yang lurus di sepanjang aliran Sungai Progo ini awalnya terasa begitu ringan untuk dilalui. Namun, justru di balik kemudahan trek yang minim tanjakan inilah, ambisi saya untuk terus melaju kencang menjadi ujian yang sebenarnya bagi ketahanan fisik dan mental.

Memasuki wilayah yang sejajar dengan aliran Sungai Progo, tantangan berubah menjadi tantangan fisik yang sesungguhnya. Saya melakukan kesalahan fatal, terlalu berambisi menaklukkan angin sakal (headwind) yang datang dari arah pantai, memaksa kayuhan tanpa jeda, memacu pedal MTB saya seolah sedang dalam lintasan balap.

Akibatnya, di tengah perjalanan, tubuh mulai mengirimkan sinyal bahaya. Pandangan sempat memudar, telinga berdenging, dan kesadaran seolah melayang, hampir pingsan karena ambisi yang tidak terukur. Di titik kritis itu, dunia terasa berputar dan kaki terasa seperti terpaku ke bumi.

Namun, di tengah keputusasaan tersebut, tangan-tangan rekan seperjalanan hinggap di pundak. Kalimat-kalimat motivasi mulai terdengar, "Sedikit lagi, jangan berhenti, pelan-pelan saja asal konsisten." Kehangatan kebersamaan itulah yang menjadi energi cadangan yang tak ada habisnya. Rekan-rekan tidak meninggalkan saya, mereka mengatur tempo, menjaga angin di depan, dan memastikan saya tetap sadar hingga garis cakrawala terbuka lebar.

Ketika struktur Jembatan Pandansimo akhirnya berdiri kokoh di depan mata, rasa mual dan lelah seketika luruh. Berdiri di perbatasan Bantul dan Kulonprogo dengan MTB merah putih yang masih setia di genggaman, saya sadar bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang tercepat. Ini tentang bagaimana motivasi kawan sanggup mengangkat kita saat raga sudah menyerah. Finis di Pandansimo sore itu bukan sekadar pencapaian jarak, melainkan kemenangan sebuah persaudaraan di atas dua roda.



 

Posting Komentar

advertise