Kampus Selatan, Guru Hebat, dan "Turbo" Spiritual : Catatan Briefing Pagi di SDIT Cahaya Insani
Pagi itu (29/01/2026), udara Temanggung masih malu-malu menyapa dengan dinginnya yang khas. Saya melaju menuju Kampus Selatan SDIT Cahaya Insani. Bukan untuk sidak, tenang saja Bapak/Ibu guru, tapi untuk berbagi energi dalam briefing pagi.
Melihat wajah-wajah pejuang pendidikan di sana, saya teringat satu hal: menjadi guru itu seperti mengayuh sepeda (gowes). Kalau tidak seimbang antara tarikan napas (spiritual) dan putaran kaki (profesional), ya pilihannya cuma dua: capek di jalan atau jatuh bangun sebelum sampai tujuan.
Bertaqwa : Bahan Bakar Paling Irit
Saya sampaikan kepada teman-teman guru, bahwa Bertaqwa itu bukan cuma soal dahi yang menghitam atau lisan yang terus berdzikir. Di sekolah, bertaqwa adalah mindset.
Bayangkan jika kita mengajar tanpa landasan taqwa. Menghadapi murid yang "aktifnya minta ampun" mungkin akan membuat kita cepat naik darah. Tapi dengan taqwa, kita melihat mereka sebagai titipan langit. Capeknya jadi lillah, marahnya jadi doa. Taqwa ini adalah "bahan bakar" paling irit; harganya gratis, tapi tenaganya bikin kita kuat mengajar dari jam pertama sampai jam terakhir tanpa harus pasang muka "singa lapar".
Profesional : Jangan Sampai "Baling-Baling" Oleng
Lalu, bagaimana dengan Profesional?
Saya sering naik pesawat ATR (baling-baling) Yogyakarta-Jakarta. Mesinnya bising, tapi pilotnya sangat profesional. Mereka tahu kapan harus take-off dan kapan harus landing dengan mulus. Nah, guru pun begitu.
Profesional itu berarti kita tahu "medan tempur" kita. Jangan sampai niatnya sudah tulus (taqwa), tapi masuk kelas tanpa persiapan (tidak profesional). Itu sama saja seperti pilot yang lupa cek bahan bakar sebelum terbang—niatnya sampai tujuan, tapi praktiknya malah bikin jantungan!
Profesional bukan berarti kaku seperti robot. Profesional itu tentang ketepatan waktu, kualitas materi, dan bagaimana kita memberikan layanan terbaik untuk anak-anak kita. Ingat, kita sedang membentuk masa depan, bukan sedang menggoreng tempe yang kalau gosong tinggal dibuang.
Kesimpulan dari Kampus Selatan
Briefing pagi itu saya tutup dengan satu pesan sederhana: Jadilah guru yang profesional di bumi, namun tetap bertaqwa kepada Yang di Langit.
Dunia pendidikan itu dinamis. Kadang seperti jalur gowes yang nanjak terjal, bikin keringat deras bercucuran. Tapi selama kita punya "rem" taqwa dan "pedal" profesional yang kuat, perjalanan ini akan terasa sangat nikmat.
Terima kasih teman-teman di Kampus Selatan atas senyum dan energinya pagi ini. Tetap semangat, karena pahala mengajar itu tidak bisa di-kurs-kan ke rupiah, tapi efeknya tembus sampai ke Jannah.
Salam literasi, salam gowes!



Posting Komentar