Gowes vs Deadline : Melarikan Diri dari Layar Demi Melihat Dunia yang Nyata
Bagi orang lain, sepeda mungkin hanyalah alat transportasi atau sekadar tren gaya hidup. Tapi bagi saya, gowes adalah satu-satunya olahraga yang mendapatkan restu penuh dari hati, pikiran, dan otot-otot saya yang mulai kaku ini. Kenapa gowes? Karena kalau lari, saya sering merasa sedang dikejar-kejar laporan bulanan. Kalau berenang, saya takut lupa cara mengapung karena terlalu banyak beban pikiran. Jadi, gowes adalah jalan tengah yang paling damai.
Jujur saja, kemampuan gowes saya belum sejauh rute Tour de France. Jarak tempuh saya mungkin belum seberapa, dan napas saya sering kali lebih mirip suara kompresor ban daripada napas seorang atlet. Namun, saya belajar satu hal penting: kesehatan bukanlah balapan, melainkan sebuah ikhtiar yang berkelanjutan. Tidak peduli seberapa pelan kita mengayuh, selama roda itu berputar, kita masih lebih maju daripada mereka yang hanya duduk diam meratapi nasib.
Monitor adalah sahabat sekaligus musuh terbaik saya. Radiasinya telah memberikan "hadiah" berupa tambahan minus dan silinder pada mata ini. Kadang, melihat dunia lewat layar membuat perspektif kita jadi sempit dan kaku. Mata silinder saya adalah pengingat bahwa hidup ini tidak selalu lurus dan sempurna. Tapi justru di situlah seninya.
Saat saya menaiki sadel dan mulai mengayuh, saya sedang memberikan hak bagi mata saya untuk melihat ciptaan Allah yang paling megah: Alam. Di jalanan, tidak ada pixelated images atau blue light. Yang ada hanyalah hijau daun yang tulus, birunya langit yang jujur, dan embun pagi yang tidak bisa diwakili oleh wallpaper komputer tercanggih sekalipun.
Bersepeda mengajarkan saya tentang kepemimpinan diri. Saat tanjakan datang dan otot paha mulai protes, saya diingatkan bahwa untuk mencapai puncak atau visi yang besar, memang dibutuhkan tekanan. Tapi setelah tanjakan, selalu ada turunan yang memberikan hembusan angin segar sebagai upah dari kesabaran.
Gowes adalah cara saya "menyetel ulang" niat. Jika di kantor saya memimpin ratusan orang, maka di atas sepeda, saya belajar memimpin diri sendiri untuk tidak menyerah pada rasa malas. Saya mungkin belum mampu menempuh jarak ratusan kilometer, tapi setidaknya saya sudah menempuh jarak "keluar dari zona nyaman".
Jadi, untuk Anda yang juga terjebak di balik layar: Keluarlah. Ayuhlah pedalmu, meski pelan. Biarkan mata yang lelah ini melihat jauh ke ufuk, bukan hanya ke ujung hidung atau barisan angka. Karena visi yang jernih tidak hanya lahir dari kacamata yang mahal, tapi dari hati yang sehat dan raga yang terus bergerak.
Ingat, integritas seorang CEO diri sendiri diuji bukan saat ia duduk di kursi empuk, tapi saat ia tetap konsisten mengayuh meski jalanan di depan tampak sedikit buram karena silinder.
Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo


Posting Komentar