Deadline Adalah Stasiun, Bukan Keinginan
Banyak dari kita yang memperlakukan deadline seperti tukang angkot yang bisa diteriaki, "Kiri, Bang!" di mana saja. Padahal, deadline pekerjaan itu seperti Stasiun Gambir atau Stasiun Tugu. Dia statis, tegas, dan tidak akan mengejar Anda. Jika Anda tidak bergerak cepat, Anda akan melihat "kereta kesuksesan" melaju meninggalkan Anda yang masih termangu di peron sambil memegang laptop yang baterainya tinggal 5%.
Bekerja mengejar deadline di dalam kereta punya seninya sendiri. Ada sensasi adrenalin saat Anda mencoba mengetik laporan penting sementara gerbong sedang bergoyang hebat karena melewati wesel. Hasilnya? Laporan yang tadinya serius bisa berubah menjadi puisi surealis karena jari Anda terpeleset tombol backspace.
Belum lagi perjuangan saat sinyal timbul tenggelam setiap kali kereta masuk terowongan. Di saat itulah kita belajar tentang kepasrahan tingkat tinggi. Kita sadar bahwa sekeras apa pun kita berusaha, ada kekuatan alam (dan provider internet) yang menentukan apakah file tersebut terkirim atau berakhir di folder outbox dengan status "Failed".
Filosofi terakhir adalah tentang istirahat. Sesibuk apa pun Anda mengejar deadline di atas rel, ingatlah bahwa kereta memiliki gerbong restorasi. Hidup bukan cuma tentang mengetik sampai jari keriting, tapi juga tentang kapan waktu yang tepat untuk memesan nasi goreng seharga tiket bioskop demi menjaga kewarasan.
Menuntaskan tugas memang penting, tapi sampai di tujuan dengan selamat dan tidak "bordes" (alias stres di pinggiran) adalah kemenangan yang sesungguhnya. Jadi, pastikan sebelum kereta berhenti di stasiun akhir, tugas Anda sudah rapi, laptop sudah masuk tas, dan Anda siap turun dengan kepala tegak, bukan turun dengan mata panda karena begadang di sepanjang jalur utara.
Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo


Posting Komentar