Menanam Singkong di Kebun Tetangga (dan Mengapa Itu Ide Buruk)
Pernahkah Anda berdiri di tengah "sawah" pekerjaan Anda, mencangkul dengan penuh keringat, lalu tiba-tiba menoleh ke sebelah dan membatin, “Wah, traktor si Bambang kok kelihatannya lebih mengkilap ya?” Hati-hati, itu adalah gejala awal penyakit Iri-tasi Kronis. Penyakit ini seringkali membuat kita merasa rumput tetangga jauh lebih hijau dan menggoda, padahal jika kita mau melangkah sedikit lebih dekat dan memperhatikan dengan saksama, ternyata itu cuma rumput sintetis murahan yang dipasang menggunakan lem sosis. Fokus pada milik orang lain hanya akan membuat cangkul di tangan kita sendiri terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Bekerja sesuai tanggung jawab itu sebenarnya ibarat menjadi seorang petugas parkir di pasar yang sedang ramai-ramainya. Tugas Anda mungkin terlihat sederhana, yaitu meniup peluit dan mengatur motor agar tidak saling mengunci stang. Namun, bayangkan jika Anda merasa iri dengan tukang sate yang dikerubungi pembeli, lalu Anda memutuskan untuk ikut membakar kipas dan meninggalkan barisan motor yang berantakan demi mendapatkan perhatian. Alih-alih mendapatkan untung, Anda justru akan diteriaki oleh pemilik motor yang terjepit dan dimarahi oleh tukang sate karena asap Anda menghalangi pembelinya. Fokus pada peluit sendiri jauh lebih menyelamatkan daripada sibuk ingin memegang kipas orang lain.
Keinginan untuk selalu melirik posisi orang lain seringkali membuat kita lupa bahwa setiap peran memiliki "setan" dan bebannya masing-masing. Sering kita melihat seorang juragan tanah duduk tenang di kursi empuknya sambil memegang ponsel mahal dan berpikir betapa enaknya hidup mereka yang hanya perlu memerintah saja. Padahal, kita tidak pernah tahu bahwa di balik layar ponsel itu, kepalanya sedang berdenyut memikirkan cicilan bank atau komplain pelanggan yang lebih pedas daripada sambal bawang di warteg. Setiap posisi adalah potongan puzzle yang penting; jika semua orang hanya ingin menjadi pengantin di sebuah hajatan tanpa ada yang mau menjadi bagian cuci piring atau penerima tamu, maka pesta tersebut tidak akan pernah berjalan dengan lancar.
Konsistensi dalam menjalankan tugas, sekecil apa pun itu, adalah bentuk harga diri yang paling murni yang bisa kita miliki. Menjadi ahli dalam apa yang Anda kerjakan saat ini—seperti tukang tambal ban yang sangat rapi atau kurir yang hafal setiap gang sempit—jauh lebih terhormat daripada menjadi seorang amatiran yang sibuk mengeluh mengapa dirinya tidak jadi mandor. Agar tidak terjebak dalam pusaran rasa iri yang tidak berfaedah, cobalah untuk memakai kacamata kuda versi estetik dengan tetap fokus pada target sendiri. Jika tetangga sebelah baru saja memamerkan barang baru hasil promosi jabatannya, anggap saja itu adalah kompensasi atas waktu tidurnya yang hilang karena harus bekerja lembur sampai larut malam.
Penting juga untuk selalu mensyukuri beban yang ada saat ini karena penghasilan yang besar biasanya berbanding lurus dengan jumlah uban dan kerutan di dahi akibat memikul tanggung jawab besar. Jadilah legenda di bidangmu sendiri; jika tugasmu adalah menggoreng bakwan di pinggir jalan, buatlah bakwan yang saking renyahnya bisa membuat orang rela mengantre sejak subuh. Kehebatan sejati tidak ditentukan oleh menterengnya sebutan profesi, melainkan oleh seberapa dicari keberadaan Anda oleh orang lain karena kualitas kerja yang tak tertandingi.
Dunia ini sudah cukup bising dengan orang-orang yang berebut panggung dan haus akan pengakuan di media sosial. Jadilah sosok yang tenang, yang melakukan bagiannya dengan jujur sambil tetap menyisipkan sedikit tawa di sela-sela debu dan lelahnya hari. Tidak perlu merasa iri dengan mereka yang sering difoto dan masuk berita, karena biasanya semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang pula angin yang siap merobohkannya. Lebih baik kita berada di sini, menjalankan amanah yang ada di depan mata, sambil sesekali menertawakan konyolnya drama-drama orang yang sibuk membandingkan nasib.
Karena pada akhirnya, saat hari berakhir dan kita meletakkan badan untuk beristirahat, yang akan dicatat bukanlah seberapa sering kita melirik keberhasilan atau kemewahan orang lain. Yang benar-benar dihitung adalah seberapa tulus kita berkontribusi dan seberapa bersih "sawah" yang menjadi tanggung jawab pribadi kita masing-masing. Oleh karena itu, simpanlah rasa irimu di dalam laci yang terkunci, genggam kembali alat kerjamu dengan bangga, dan mari kita buat lingkungan sekitar terkesan dengan kerja keras kita yang nyata, tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain yang bukan porsinya.
Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo


Posting Komentar