Sabar dalam Proses : Saat Kecepatan Bukan Lagi Kendali Kita

Daftar Isi


Dalam dunia kerja yang serba cepat, kita sering merasa dikejar oleh deadline dan target. Ada kalanya, ketika sebuah pekerjaan tertunda atau rencana tidak berjalan sesuai jadwal, kita merasa gagal atau frustrasi. Namun, pengalaman saya menjalankan misi kemanusiaan di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan perspektif baru : bahwa kecepatan bukanlah segalanya, dan ketabahan adalah kunci untuk mencapai tujuan yang bermakna.

Perjalanan itu dimulai dengan sebuah rencana yang matang (20/11/2024). Kami telah menyiapkan motor lapangan yang tangguh untuk menjangkau sebuah sekolah di pelosok pedalaman. Secara hitungan logis, kami seharusnya bisa sampai di lokasi dengan cepat. Namun, alam memiliki skenarionya sendiri. Hujan turun sangat deras, mengubah tanah kering menjadi hamparan lumpur yang pekat. Roda motor kami kehilangan daya cengkeram; ia hanya berputar di tempat, tak mampu menapak.

Di titik itu, kami dihadapkan pada pilihan: menyerah karena keadaan, atau terus maju dengan cara yang paling melelahkan. Kami akhirnya memilih untuk berjalan kaki. Bukan satu atau dua jam, melainkan delapan jam perjalanan menembus medan yang berat. Kaki yang berat oleh beban lumpur dan raga yang mulai kelelahan menjadi saksi bahwa terkadang, satu-satunya cara untuk menyelesaikan pekerjaan adalah dengan melambat dan menikmati setiap langkah perjuangan.

Misi kami saat itu adalah memperbaiki rumah kepala sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa realita pendidikan di pedalaman sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di Pulau Jawa. Di sana, seorang kepala sekolah berjuang mendidik anak bangsa di tengah kampung tanpa aliran listrik dan tanpa sinyal internet. Dengan gaji hanya Rp300.000 per bulan, dedikasi beliau melampaui segala keterbatasan materi yang ada.

Rasa lelah selama delapan jam berjalan kaki seketika sirna saat kami menginjakkan kaki di lokasi tujuan. Sambutan warga begitu luar biasa; kegembiraan mereka pecah saat melihat kami datang. Di tengah keterasingan geografis, kehadiran kami memberikan secercah harapan. Kami menyadari bahwa rumah yang kami perbaiki bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol penghargaan bagi mereka yang terus mengabdi di garis depan pendidikan meski dalam sunyi.

Namun, ujian kesabaran belum berakhir. Setelah berbagai program di NTT selesai dilaksanakan, rencana kami untuk pulang kembali terhambat. Gunung Api Lewotobi meletus, memaksa ruang udara ditutup dan semua penerbangan dibatalkan selama beberapa hari. Rencana kembali ke rutinitas secara instan pupus seketika. Kami akhirnya memutuskan menempuh jalur laut menggunakan kapal menuju Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan panjang dengan kereta api menuju Yogyakarta.

Perjalanan pulang yang melambat itu memberi kami waktu untuk merenung. Seringkali, situasi yang membuat kita tidak bisa cepat menyelesaikan pekerjaan, baik itu kendala teknis, bencana alam, maupun keterbatasan sumber daya, sebenarnya adalah ruang bagi kita untuk menguji integritas dan ketulusan. Dari NTT, saya belajar bahwa hasil yang manis tidak selalu datang dari proses yang cepat, melainkan dari proses yang dilakukan dengan penuh ketangguhan hingga garis finis.

Oleh : Muhamad Anantiyo Widodo

Posting Komentar

advertise