Bekerja dalam Senyap: Ketika Seorang Pemimpin Datang Mencari Jagung ke Temanggung
Suatu hari, tiba-tiba sebuah SMS masuk.
Isinya cukup mengagetkan: Walikota Depok, Dr. Nur Mahmudi Ismail, sedang dalam perjalanan menuju Temanggung. Malam harinya, beliau ingin bertemu dengan beberapa orang.
Saya pun bertanya-tanya, ada agenda apa beliau datang ke Temanggung?
Baru pada sore harinya saya mengetahui maksud kedatangan beliau. Pak Nur, begitu beliau biasa disapa, datang untuk melihat pertanian jagung di Kecamatan Tretep. Beliau ditemani langsung oleh Bupati Temanggung, Bambang Sukarno.
Temanggung ternyata menarik perhatian beliau karena sekitar 30 persen penduduknya menjadikan jagung sebagai salah satu makanan pokok.
Saat itu, Pak Nur sedang mendorong gerakan One Day No Rice (ODNR), yaitu gerakan sehari tanpa nasi. Gagasannya sederhana: masyarakat tidak harus selalu bergantung pada beras. Jagung dan berbagai sumber pangan lokal lainnya dapat menjadi alternatif.
Malam harinya, sesuai agenda, kami akhirnya bertemu dengan Pak Nur.
Hanya ditemani beberapa orang ahli pangan, beliau menyapa kami dengan sangat hangat. Pertemuan berlangsung sederhana. Tidak ada ruangan mewah. Kami duduk lesehan dan berbincang hingga larut malam.
Namun justru dalam suasana sederhana itulah kesan tentang sosok beliau terasa kuat.
Beliau berbicara seperti sedang berbincang dengan teman lama. Tidak ada jarak yang terasa. Tidak ada suasana formal yang berlebihan. Yang terasa adalah kesederhanaan dan kedekatan dengan persoalan masyarakat.
Pak Nur kemudian menjelaskan gagasan diversifikasi pangan yang sedang beliau perjuangkan.
Menurut perhitungan yang beliau sampaikan saat itu, jika konsumsi beras dapat dikurangi dan sebagian kebutuhan pangan digantikan dengan bahan pangan lokal seperti jagung, maka jumlah beras yang dapat dihemat sangat besar. Dampaknya bukan hanya pada konsumsi masyarakat, tetapi juga pada anggaran pemerintah dan stabilitas harga pangan.
Di balik gagasan tersebut sebenarnya ada persoalan yang jauh lebih besar: kedaulatan pangan.
Diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti nasi dengan jagung.
Ia menyangkut bagaimana masyarakat mengenali kembali kekayaan pangan yang tumbuh di sekitarnya. Ia juga membuka peluang bagi petani, pelaku UMKM, pengolah pangan, hingga berbagai usaha baru yang tumbuh dari komoditas lokal.
Jika masyarakat mulai mengonsumsi lebih banyak pangan nonberas, maka kebutuhan terhadap komoditas tersebut akan meningkat. Pada akhirnya, petani memiliki pasar yang lebih luas, lahan pertanian menjadi lebih beragam, dan rantai ekonomi di tingkat masyarakat dapat bergerak.
Di situlah saya melihat bahwa sebuah kebijakan pangan sesungguhnya tidak pernah hanya berbicara tentang makanan.
Ia berbicara tentang petani, ekonomi, kesehatan, pekerjaan, dan kedaulatan sebuah bangsa.
Program One Day No Rice yang digagas Pak Nur saat itu juga mendapat perhatian luas. Gagasan tersebut memperoleh apresiasi dan penghargaan, bahkan mendorong sejumlah daerah lain untuk mencoba menerapkan kebijakan serupa.
Namun ada satu hal dari kunjungan beliau ke Temanggung yang paling saya ingat.
Beliau datang bukan sekadar untuk berbicara tentang gagasan.
Beliau datang mencari sumber jagung.
Beliau ingin mengetahui dari mana bahan pangan tersebut dapat diperoleh untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Depok. Bahkan beliau menyampaikan kesediaan untuk membeli jagung yang dihasilkan petani, tentu dengan standar kualitas yang telah ditentukan.
Bagi saya, di sinilah menariknya sebuah gagasan ketika benar-benar ingin diwujudkan.
Gagasan tidak berhenti pada seminar.
Tidak berhenti pada slogan.
Tidak berhenti pada konferensi pers.
Tetapi turun menjadi pertanyaan yang sangat konkret:
Dari mana barangnya?
Siapa yang memproduksi?
Bagaimana kualitasnya?
Berapa kebutuhan pasarnya?
Bagaimana petani mendapatkan manfaat?
Saya juga terkesan karena kunjungan tersebut berlangsung tanpa kemeriahan pemberitaan yang berlebihan. Tidak ada kesan bahwa setiap langkah harus diketahui banyak orang.
Beliau datang, melihat, berdiskusi, mencari solusi, lalu bekerja.
Diam-diam, tetapi arah kerjanya jelas.
Dari pertemuan sederhana di sebuah tempat lesehan di Temanggung itu, saya belajar satu hal tentang kepemimpinan.
Seorang pemimpin tidak selalu harus terlihat sedang bekerja.
Terkadang pekerjaan yang paling penting justru berlangsung jauh dari sorotan kamera.
Memikirkan bagaimana masyarakat mendapatkan pangan. Mencari pasar bagi petani. Menghubungkan daerah produsen dengan daerah konsumen. Membuka peluang ekonomi. Mengurangi ketergantungan pada satu komoditas.
Semuanya mungkin terlihat sederhana.
Tetapi jika dikerjakan secara konsisten dan terhubung dengan kebijakan yang tepat, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang terlihat pada saat itu.
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya kembali melihat potensi pertanian Temanggung, percakapan malam itu terasa semakin relevan.
Jagung bukan hanya tanaman.
Ia bisa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi.
Petani bukan hanya produsen.
Mereka adalah bagian penting dari rantai kedaulatan pangan.
Dan seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang membuat kebijakan.
Ia juga harus mampu melihat persoalan dari hulu sampai hilir: dari tanah tempat petani menanam hingga meja tempat masyarakat menikmati makanan.
Mungkin inilah makna bekerja dalam senyap.
Tidak selalu ramai dibicarakan.
Tidak selalu mendapatkan sorotan.
Tetapi meninggalkan jejak yang dapat dirasakan banyak orang.
Karena pada akhirnya, ukuran sebuah gagasan bukan seberapa keras ia disampaikan, melainkan seberapa jauh ia mampu mengubah kehidupan.
